Sensasi Bermalam di Kawasan Pasar Kembang Jogja



Malam itu dua orang wanita berpakaian sexy datang menghampiri saya, tanpa memulai perkenalan, dari salah satu mereka keluar ucapan “mas.. silahkan masuk mas, mampir dulu kesini”

**

Ada suatu hal yang belum pernah saya ceritakan ke semua orang tentang pengalaman saya menginap di kawasan undercover nya Yogyakarta yaitu Pasar Kembang. Mungkin sebagian orang sudah tau dengan tempat yang satu ini, ya tempat ini merupakan kawasan lokasilisasi terbesar di Yogyakarta.

Singkat cerita pada akhir Januari 2019 yang lalu, saya melakukan solo travelling ke Yogyakarta dari Bandar Lampung sekitar 7 hari pulang pergi. Saya memberanikan diri untuk keluar dari zona nyaman dan pergi travelling sendirian tanpa teman dan keluarga di Jogja, jadi ya benar-benar sendirian di Jogja, apalagi ini pertama adalah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Kota Gudeg itu.

Sebelum berangkat saya mencari penginapan yang murah melalui aplikasi tiket online dan pada saat itu saya memilih 2 tempat penginapan, hari pertama – hari keempat yaitu Reddoorz dekat STIE YKPN Yogyakarta dan hari kelima di salah satu hostel yang lokasinya tidak jauh dari Malioboro. Namun kali ini saya akan focus bercerita ke kalian tentang pengalaman saya menginap di salah satu hostel yang lokasinya di kawasan Pasar Kembang

Ada beberapa alasan saya untuk memilih hostel ini, yang pertama harga nya murah meriah yaitu sekitar 137 Ribu, kedua mau nyobain menginap di hostel backpacker dimana disana dalam satu kamar diisi oleh 4 orang yang tidak dikenal dan yang ketiga yaitu lokasinya yang strategis dan tidak jauh dari Malioboro. Jadi dari hostel saya itu ke Malioboro bisa jalan kaki.

Setelah check out dari penginapan yang pertama di Reddoorz STIE YKPN sekitar jam 10 an, saya pun langsung mengarahkan motor matic yang saya sewa menuju ke hostel itu menempuh waktu sekitar 15 menitan. Awalnya sama sekali saya tidak tau bahwa hostel yang saya inap itu terletak di kawasan Pasar Kembang, karena siang itu suasananya biasa-biasa saja, sama seperti tempat yang lainnya.

Setelah sampai di hostel itu lalu saya check in dan masuk ke kamar saya yang terletak di lantai 3, di kamar saya itu belum ada yang huni, hanya saya sendiri. Lalu saya pun beres-beres menaruh ransel dan beristirahat di atas kasur. Jadi dalam satu kamar itu ada 4 ranjang yang bertingkat, pada saat itu saya dapat di ranjang yang bawah.

Beberapa jam kemudian, pintu kamar terbuka, ternyata ada seorang pria yang masuk ke kamar saya dan dia adalah seorang pemuda yang juga sedang berlibur ke Jogja sendirian. Saya lupa namanya yang saya masih ingat, dia berasal dari Semarang.

Singkat cerita setelah berbincang di dalam kamar, saya pun melanjutkan untuk beristirahat dan terbangun pada saat ashar sekitar jam 3 sore. Lalu saya mandi dan melanjutkan dengan sholat Ashar. Setelah itu saya bersantai di roof top tempat saya menginap, disana sudah disediakan teh dan kopi yang bisa diambil secara gratis.

Sambil menikmati segelas teh angat, saya pun melihat kondisi di sekitaran bahwa penginapan dari roof top, tidak terlalu ramai pada sore itu.

Tak terasa sore pun berganti dengan malam, dan ini adalah malam terakhir saya di Yogyakarta. Di malam terakhir saya tidak mau menghabiskannya hanya di dalam penginapan, saya pun keluar dari penginapan sekitar pukul 8 malam-an

Ketika saya menginjakkan aspal di depan penginapan saya, pada saat itu tiba dua orang wanita berpakaian sexy datang menghampiri saya, tanpa memulai perkenalan, dari salah satu mereka keluar ucapan “mas, silahkan mampir masuk, mampir dulu kesini” seketika pada saat itu saya sontak kaget dalam hati, belum sempat saya membalas untuk menolak, lalu dari wanita yang satunya mengucapkan “mau berapa orang mas? Dua atau lebih?”

“Astaga apa-apaan ini” ujar saya dalam hati

Saya melihat turis asing ramai memasuki tempat tersebut dan suara music IDM terdengar begitu sangat keras dari dalam bar

“Maaf tidak mbak” balas saya dengan spontan

Lalu saya pergi menjauh dari mereka, dan melanjutkan perjalanan  ke Malioboro dengan berjalan kaki. Kondisi disekitar penginapan saya pada malam itu sangat ramai, sungguh berbeda dengan siang hari tadi yang tidak terlalu ramai.

Pada saat menuju Malioboro, saya melewati sebuah gang, dimana di depan gang itu banyak sekali kendaraan yang dominan roda dua parkir di depan gang. Ternyata oh ternyata gang itu bernama Pasar Kembang. Saya tidak terlalu penasaran dengan gang itu dan melanjutkan jalan kaki saya ke Malioboro, sesampainya di Malioboro saya mencari makan untuk makan malam.

Malam itu suasana di Malioboro begitu sangat ramai, wajar saya, Malioboro merupakan salah satu destinasi yang dituju oleh wisatawan dari berbagai daerah termasuk saya sendiri.

Setelah selesai makan pecel lele saya terus berjalan di sepanjang jalan Malioboro, menikmati suasana keramaian Malioboro dan saya menginjakkan  kaki mengarah kearah atraksi pengamen Malioboro yang pada malam itu ramai dikelilingi oleh sekumpulan orang. Masing-masing dari mereka (pengunjung) sedang asik mendokumentasikannya melalui hp mereka masing-masing dan saling bergandengan dengan pasangan mereka.

Yaa pada malam itu, saya benar-benar merasakan uji nyali berdiri sendirian diantara keramaian orang yang berpasangan. Tak lama itu saya pun menuju ke salah satu toko merchandise di Malioboro untuk oleh-oleh dan setelah beli merchandise khas Jogja saya melanjutkan untuk balik ke penginapan karena waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan cuaca pada malam itu juga lagi gerimis.

Memasuki jalan arah penginapan saya, makin malam suasananya lebih ramai dari tadi saya berangkat sekitar jam 8-an. Setelah sampai di penginapan, saya masuk ke kamar untuk menaruh barang belanjaan saya dan di dalam kamar sudah ada pemuda asal Semarang tadi. Lalu kami berbincang-bincang dan dia pun ternyata juga di goda oleh dua wanita yang berpakaian sext tadi

“Kalau gak kuat iman, pasti akan  ke goda mas.. Hahaha” ujarnya

Dan keesokan harinya saya bergegas packing untuk check out dan berangkat untuk pulang ke Lampung, sebelum ke Lampung saya ke Solo terlebih dahulu menaiki kereta api. Sebab bus saya berangkatnya dari Solo.

Namun setelah sampai di Solo, pertama kali saya incar yaitu Bakmie Solo karena di Solo itu pusatnya Bakmie. Saya menuju ke salah satu warung Bakmie yang direkomendasikan oleh tukang becak yang saya naikki dan lokasinya itu tidak jauh dari Stasiun Solo Balapan.

Ternyata rasa bakmie yang saya coba itu rasanya B aja dan lebih enak Bakmie yang saya makan di Sumatera. Setelah makan Bakmie saya melanjutkan perjalanan ke Pool Bus ALS di Solo dan pulang ke Bandar Lampung

**

Sekian dulu tulisan saya kali ini dan terima kasih untuk teman-teman yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca tulisan receh saya ini.

Sampai jumpa di Tulisan saya selanjutnya *)

****

Posting Komentar