Segelas Aia Aka Yang Di Rindukan dan Ini Manfaatnya Untuk Kesehatan

Malam itu, Jum’at 22 Juni 2018 adalah malam terakhir saya di Kota Padang. Di Malam terakhir itu saya mencoba untuk mengelilingi Kota Padang sambil bernostalgia masa kecil saya dulu menggunakan sepeda motor adik sepupu saya.

Seketika mata saya tertuju ke arah penjual Aia Aka di daerah Pasar Siteba Padang. Selama merantau di Lampung saya tidak pernah menemukan menemukan Aia Aka ini. Tanpa berpikir panjang saya memarkirkan motor lalu memesan segelas Aia Aka.


Aia Aka (Air Akar) adalah salah satu minuman tradisional khas Sumatera Barat yang berbahan dasar cincau hijau. Cincau hijau tersebut berasal dari racikan daun cincau yang diolah secara tradisional. Dalam penyajiannya, Aia Aka ini disajikan dengan air jeruk nipis dan juga santan kental yang manis. Kurang lebih seperti cendol pada umumnya.

Aia Aka

Pada saat itu cuman saya sendiri pembelinya. Jadi momen-momen terakhir di Kota Padang saya mencoba untuk berbicara kepada penjual Aia Aka itu. Ternyata namanya adalah Pak Amir. Pak Amir saat ini berusia 59 tahun dan berjualan Aia Aka sejak tahun 1992.

Lalu saya mencoba bertanya asal usul Aia Aka di Ranah Minang. Pak Amir lumayan banyak memberikan penjelasan kepada saya asal usul dari Aia Aka. Tapi karena saya besarnya di Rantau orang jadi bahasa Minang saya tidak terlalu fasih, namun yang saya ingat, penjelasan dari beliau bahwa Aia Aka berasal dari daun kacang yang diolah menjadi cincau hijau. Lalu Cincau Hijau itu disajikan dengan air jeruk nipis dan santan kental yang manis.

Selanjutnya saya menanyakan manfaat dari Aia Aka itu. 

Beliau menjawab “Untuak manfaatnyo aia Aka ko untuk malapeh awuih jo mandinginkan di dalam paruik atau ubek paneh dalam, ancak ko mah” artinya dalam Bahasa Indonesia “Untuk manfaat dari Aia Aka ini untuk melepas rasa haus dan mendinginkan di dalam perut atau bagus untuk obat panas dalam”

Lalu kamipun asik mengobrol sambil tertawa-tawa. Walaupun baru pertama kali saya bertemu dengan Pak Amir, namun rasanya beliau sudah seperti saudara saya sendiri. Momen ini adalah salah momen yang saya rindukan. Yang pertama saya bisa bertemu dan berkenalan dengan orang baru dan yang kedua saya bisa berinteraksi menggunakan bahasa Minang. Selama di rantau saya menggunakan bahasa Minang hanya bersama kedua orang tua saya.

Dalam sehari, Pak Amir mendapat uang jual beli sebesar 300-350rb. Beliau selalu bersyukur karena bisa menafkahi keluarganya dengan berdagang yang halal. Sekali2 beliau bercanda kepada saya
“Kalau hasil jualan Aia Aka ko lai cukuik lah untuk biaya Sahari-hari apak dirumah, tapi ndak bisa untuak kayo doh. Hahaha”
Atau dalam bahasa Indonesianya “kalau hasil jualan Aia Aka ini bisa cukup untuk kebutuhan keluarga sehari-hari dirumah tapi tidak bisa untuk kaya. Hahaha”
Lalu saya pun membalas “yang penting bapak dan sekeluarga selalu diberi kesehatan dan kebutuhan yang cukup ya pak”
“Iyo diak, Alhamdulillah” jawab pak Amir 

Tak terasa Aia Aka saya sudah habis. Dan pembeli pun mulai berdatangan. Saya memesan 3 bungkus Aia Aka untuk saya bawa pulang. Tak lupa saya mendokumentasikan momen itu.

“Ndehhh mir, di poto pulo ang mir” atau artinya “ondeh mir, difoto pula kau mir” ujar uni penjual sate disebelah lapak pak Amir sambil tertawa
Saya dan pak Amir juga ikut tertawa

Setelah pesanan saya selesai, saya bayar lalu izin pamit untuk pulang

Kesimpulan yang saya dapat dari cerita malam terakhir itu, ternyata bahagia itu sederhana. Bahagia gak harus melulu soal Rupiah”

Sekian dan sampai berjumpa ditulisan saya selanjutnya...

****

Posting Komentar