Pulau Tidung : Surga Wisata Yang Tersembunyi di Jakarta

Difotoin sama bang @riez_aries

Wisata di Jakarta ternyata tidak hanya sekedar Monas, Kota Tua ataupun Dufan. Kota yang dikenal sebagai jumlah penduduk terbesar di Indonesia itu ternyata menyimpan sebuah Pulau yang indah, pulau itu bernama Pulau Tidung yang terletak di Kepulauan Seribu, Jakarta.

Minggu, 7 Juli 2019 saya bersama rombongan Team Trending Topic Twitter Genpi berangkat dari tempat penginapan kami yaitu Hotel BI Executive sekitar pukul 7 pagi.

Buat kalian yang belum tau “Genpi”, Genpi merupakan sebuah komunitas pariwisata yang dibentuk oleh Kementerian Pariwisata. Pada saat itu 6-7 Juli Team Trending Topic mengadakan Kopdar yang diadakan pertama kalinya setelah 1 tahun lebih saling bersapa di timeline twitter. Kegiatan Kopdar ini berlangsung di Jakarta dengan diikuti oleh beberapa anggota Genpi dari berbagai provinsi yaitu Sumbar, Kepri, Bengkulu, Sumsel, Lampung, Banten, Jakarta, Jabar, Jogja dan Lombok.

Salah satu kegiatan kopdar tersebut yaitu Explore Pulau Tidung yang terletak di wilayah Kabupaten Kepulauan Seribu. Tanpa banyak basa-basi ini adalah perjalanan kami ke Pulau Tidung

Cara Ke Pulau Tidung

Untuk menuju Ke Pulau Tidung ini sebenarnya 3 cara yang bisa dilalui :
  1. Menaiki Kapal Kayu dari Pelabuhan Kali Adem yang terletak di Muara Angke. Untuk harga tiketnya 45rb/orang dengan waktu tempuh sekitar 3 jam
  2. Menaiki Kapal Baharu Express dari Pelabuhan Kali Adem. Harga tiketnya bervariasi mulai dari 75rb – 175rb per orangnya. Waktu tempuh perjalanannya sekitar 45 menit
  3. Menaiki Kapal cepat dari Marina Ancol. Untuk harga tiketnya sekitar 150rb/orang. Waktu tempuhnya sekitar 1-1,5 jam.

Semuanya tergantung di kalian, mau pilih penyebrangan yang murah dengan waktu tempuh yang cukup lama atau budget yang lumayan tapi waktu tempuhnya cepat, semua pilihan ada di tangan kalian.

Dan pada saat itu, kami menyebrang menuju Pulau Tidung melalui Marina Ancol. Untuk 1 kapal itu isinya sekitar 15-25 orang.

**

Sekitar pukul 08.41 WIB rombongan kami tiba di Dermaga Marina Ancol, pagi itu cuacanya sangat cerah dan setelah turun dari bus kami langsung menuju kapal yang akan membawa kami ke Pulau Tidung.

Penyebrangan menuju Pulau Tidung dari dermaga Marina Ancol membutuhkan waktu sekitar 1 jam-an. Rombongan kami tampak bersemangat dan tak lupa mengabadikan moment perjalanannya melalui gadget masing-masing.

Setelah 30 menit lebih berlalu, suasana di dalam kapal yang awalnya ceria seketika menjadi hening, ada yang tertidur dan ada juga yang muka nya pucat seperti mabok, ternyata benar dugaan saya, gak berapa lama satu orang rombongan kami ada yang mabok laut.

Singkat cerita, beberapa menit sebelum tiba di Pulau Tidung, tiba-tiba kapal kami bergoncang cukup keras karena pada saat itu ombaknya cukup besar, membuat rombongan kami yang sedang tetidur sontak seketika terbangun dan kami pun tiba di Demaga Pulau Tidung.

Sesampainya di Pulau Tidung, saya melihat beberapa rombongan saya ada mukanya yang lemas karena mabok laut. Setelah tiba di dermaga kami langsung diarahkan oleh tour guide kami untuk menaiki sepeda menuju Jembatan Cinta. Namun sebelum ke Jembatan Cinta kami beristirahat sejenak sambil menikmati semangkok bakso lokal Pulau Tidung. Entah lapar atau bakso nya beneran enak, sungguh saya sangat menikmati bakso tersebut demi suap se suap. Walaupun sebelumnya harus ngantri mangkok, karena jumlah mangkok nya yang terbatas.

Oiya salah satu hal yang menarik bagi saya selama di Pulau Tidung yaitu bersepeda di Pulau Tidung. Soalnya lumayan lama saya tidak bersepedahan, terakhir kalau ga salah itu SD, iya SD.. Lama juga yaa.. hahahaha


Awalnya agak kaku karena udah lama gak naik sepeda, namun beberapa menit kemudian mulai santuy bersepedehan sambil menikmati keindahan di Pulau Tidung. Gayuh demi gayuh saya jalani dan kamipun tiba di pintu masuk Jembatan Cinta.

Oiya untuk tarif sewa sepeda di Pulau Tidung mulai dari 20 ribu – 30 ribu / hari
Sesampainya di Jembatan Cinta, saya sangat kagum dengan keindahan alam di Pulau Tidung, pasirnya putih dan air lautnya yang biru.

Setelah di pintu masuk Jembatan Cinta kami berfoto bersama terlebih dahulu sebelum melanjutkan penyebrangan menggunakan kapal perahu untuk menuju ke spot snorckeling.


Team Kopdar Trending Topic Twitter bersama Ketua Umum Genpi

Tak semua rombongan kami untuk ikut snorckeling, beberapa dari mereka memilih untuk beristirahat disekitaran jembatan cinta.

Untuk menuju ke Spot Snorckeling dari Dermaga Pulau Cinta membutuhkan waktu sekitar 5 menit. Sesampainya di spot snorckeling rombongan kami pada sibuk untuk memasang alat snorckeling dan saya juga tak mau melewati moment itu.

Beberapa menit kemudian, saya melihat putri yang sedang snorckeling tiba-tiba terlihat panik diatas air, Putri adalah salah satu anggota genpi lampung yang ikut ke Kopdar ini, rombongan kami yang diatas kapal berusaha untuk mengangkat ke atas kapal dan pada saat itu putri terlihat sangat lemas. 

Akhirnya rombongan kami yang ikut snorckeling naik keatas kapal dan melanjutkan ke pulau selanjutnya, sesampainya ke pulau yang saya lupa namanya, pacar putri bernama lucky berusaha mengangkat putri dan mengangkatnya ke pulau tsb.

Tak lama setelah itu akhirnya putri menyadarkan diri dan raut wajahnya terlihat lemas. Ternyata semalam putri kurang tidur, dia hanya tidur 2 jam. Sebenarnya tidak baik untuk ikut snorckeling jika kurang istirahat, takut terjadi hal yang tidak diinginkan.

30 menit kemudian, kamipun kembali ke Jembatan Cinta untuk beristirahat dan makan siang. 

Sesampainya di Jembatan Cinta kami dihidangkan makanan  oleh masyarakat setempat dengan berbagai macam aneka lauk seperti sate cumi, ikan goreng dan ayam goreng. Makan siang pada saat itu terasa nikmat, didukung dengan udaranya yang sejuk dan pemandangannya yang indah.

Setelah selesai makan siang, saya memanfaatkan waktu senggang untuk berfoto-foto disekitaran Pulau Tidung. Dan ini dia fotonya


 Jembatan Cinta di Pulau Tidung

 Ketua Kelas Trending Topic Twitter Genpi

Nyantuy di pinggir pantai 

Ketika lagi beristirahat saya juga melihat beberapa artis yang ada di Pulau Tidung seperti Indra Bekti dan Stuart Collin. Beberapa rombongan saya juga pada sibuk berfoto dengan artis ibu kota itu.

Sekitar pukul 15.00 WIB kami kembali menuju ke dermaga Pulau Tidung untuk Pulang. Selama di penyebrangan, ombak sore itu cukup besar. Beberapa kali terjadi goncangan yang cukup keras di dalam kapal kami. Lagi dan lagi, beberapa dari rombongan kami juga ada yang mabok laut, badan mereka terlihat lemas di dalam kapal. Dan sesampainya di Dermaga Marina Ancol, Nadia dan Isti yang merupakan anggota dari GenPI Banten diangkat dari kapal menuju keluar dermaga untuk mencari tempat istirahat.

Beberapa menit kemudian, bis kamipun tiba dan langsung menuju ke hotel untuk persiapan rombongan saya dari Genpi Lampung untuk pulang ke Bandar Lampung, karena bis kami berangkat dari stasiun gambir pukul 10 malam.

**

Kesimpulan yang saya ambil dari perjalanan ini, ternyata wisata di Jakarta tidak hanya sekedar Monas, Kota Tua ataupun Dufan. Di Jakarta ternyata juga terdapat pulau yang sangat indah dengan pasir putihnya yang bersih dan air lautnya yang biru indah.

Namun jika ditanya mau ke Pulau Tidung lagi atau tidak, saya akan menjawab cukup perjalanan itu yang pertama dan terakhir. Sebab penyebrangan menuju Pulau Tidung cukup menegangkan dengan ombak yang cukup besar, kalau kata salah satu rombongan saya, penyebrangannya itu seperti the real of Dufan :))

**

Sekain dulu cerita perjalanan saya selama di Pulau Tidung dan sampai berjumpa di tulisan saya selanjutnya !!



****

Sensasi Pantai Extream di Pantai Timang Jogja




ROBBYYBIE.COM  - Pagi itu, 30 Januari 2019 merupakan hari ke 3 saya di Jogja, dan hari ketiga itu saya akan menghabiskannya dengan explore Pantai Timang yang terletak di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dulunya, banyak orang yang belum mengetahui keberadaan dari Pantai Timang, namun semenjak Pantai Timang tayang di Running Man, sebuah film dari Negeri Ginseng Korea di tahun 2013, Pantai ini ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal hingga mancanegara.

Pukul 07.30 WIB saya memulai perjalanan menuju Pantai Timang dari tempat penginapan saya yaitu Red Doorz STIE YKPN. Melalui Google Map, jarak yang ditempuh menuju Pantai Timang ini sekitar 72 km atau kurang lebih 3-4 jam perjalanan. Pada saat itu saya berangkat menuju Pantai Timang sendirian dengan menggunakan motor beat yang saya rental selama 5 hari.

Selama diperjalanan, saya sangat menikmati perjalannya, Memasuki kawasan Perbukitan Gunung Kidul, saya sangat kagum dengan Gunung Kidul, sebab jalannya mulus, pemandangannya yang indah, serta udaranya yang sejuk. Ketika lelah, saya beristirahat sejenak selama 10-15 menit.

Suasana di salah satu desa di Gunung Kidul

Pada saat 50 km perjalanan, tiba-tiba Google Map saya error, lalu saya mencoba bertanya dengan warga sekitar, dan mereka pun memberikan arahan kepada saya. Sungguh orang Jogja memang ramah dan baik.

Singkat cerita, akhirnya saya menemukan plang menuju Pantai Timang, lalu saya memberhentikan motor sejenak untuk mengambil dokumentasi berupa video

“Mau kemana mas?” ujar seorang ibuk yang menyampari saya
“Ini bu, saya mau ke Pantai Timang” balas saya
“Ooo.. ke Pantai Timang ya. Sekitar 2-3 km jalannya lumayan jelek mas” ujar si ibu
“Tapi motor bisa kan bu?” Tanya saya
“Bisa mas” balas si ibuk
“Terima Kasih Bu” ujar saya
“Sama-sama mas” tutupnya


Memasuki Pantai Timang, jalannya mulai mengecil, dan terlihat di sepanjang jalan ada beberapa mobil jeep yang berkumpul. Ya mobil jeep tersebut merupakan salah satu mata pencarian warga setempat, karena sekitar 2-3 km menuju Pantai Timang itu akses jalannya jelek, sehingga mobil jeep salah satu solusi untuk mengantarkan wisatawan ke Pantai Timang. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan, untuk menaiki mobil jeep menuju Pantai Timang itu membutuhkan biaya Rp.350.000 untuk 6 orang.

Tak jauh dari tempat saya bertemu ibu tadi, terdapat 2 cabang jalan, pada saat itu Google Map menunjukan arah lurus, namun saya mencoba bertanya lagi kepada sekumpulan warga lokal disana untuk memastikan arah ke Pantai Timang

“Maaf mas, izin bertanya, arah ke Pantai Timang disebelah mana ya mas?” Tanya saya
“Mau ke Pantai Timang ya mas? Naik Jeep aja. Karena jalannya jelek, dan gak bisa dilalui sama motor” balas salah satu dari mereka
“Gapapa mas, saya ingin nyoba tracknya saja, arahnya sebelah mana ya mas?” Tanya saya lagi
“Nanti motornya bisa rusak mas kalau dipaksain untuk dilalui” balas mereka

*dari sini perasaan saya sudah mulai gak enak*
“Arah ke Pantai Timang lurus saja mas dari sini, lurus saja ya mas” balas mereka
“Baik mas, terima kasih mas” tutup saya


Lalu saya mengikuti arahan dari Google Map dan warga lokal tadi untuk memastikan, namun sekitar 500 meter dari tempat saya bertanya itu, yang saya temukan malah jalan buntu.

“Astagaaa” kesal saya dalam hati

Lalu ada seseorang nenek yang sedang membawa rumput. Ketika saya mencoba arah Pantai Timang kepada nenek itu, beliau membalasnya dengan menggunakan bahasa jawa. Jujur saya tidak paham dengan bahasa jawa. Dan tak lama kemudian, datang 3 motor mendekati motor saya, ternyata mereka berasal dari Jakarta dan Demak. Mereka juga ingin ke Pantai Timang dengan mengikuti arah Google Map dan kamipun nyasar di tempat yang sama.

“Mas, ke Pantai Timang ya?” Tanya saya kepada salah satu dari mereka
“Iya mas” balas nya
“Oke mas, saya izin gabung dengan rombongannya ya ke Pantai Timang” ujar saya
“Silahkan mas” tutupnya


Beberapa menit kemudian, datang 2 orang pemuda warga lokal yang menawari kami menaiki mobil jeep untuk menuju Pantai Timang. Kamipun tidak mengiyakan tawaran dari pemuda tersebut. Lalu kami mencoba untuk bertanya kepada seorang bapak yang sedang membersihkan halaman rumahnya.

“Maaf pak, izin bertanya, arah menuju Pantai Timang disebelah mana ya pak?” Tanya saya
“Dari pertigaan tadi, belok kanan mas” balas si bapak
“Baik pak, terima kasih pak” tutup kami


Lalu kamipun segera bergegas menuju Pantai Timang berdasarkan arahan dari bapak tadi. Dan kamipun mulai menemukan titik cerah menuju Pantai Timang, karena tak jauh dari pertigaan tadi terdapat loket karcis untuk masuk ke Pantai Timang. Oiya untuk Tarif Pantai Timang, waktu itu saya menggunakan motor sendirian, itu hanya dikenakan biaya masuk Rp.4000.

Tarif Pantai Timang

Setelah dari loket, kamipun melanjutkan perjalanan  kembali menuju Pantai Timang. Ternyata benar yang dibilang ibu-ibu tadi. Akses jalan menuju Pantai Timang sangatlah jelek, sebenarnya tidak layak untuk dilewati. Jalannya berbatu-batu dan bertanah liat. Untung saja tidak hujan, sebab kalau hujan mungkin kami akan terjebak di jalan itu. Beberapa dari rombongan kami, ada yang turun dari motor, saya motornya tidak kuat untuk dilalui berdua orang. 

Akses Menuju Pantai Timang

Kamipun berusaha untuk melewati jalan yang jelek itu. Sekitar 10 menit melewati jalan itu, akhirnya terlihat keindahan Pantai Timang dari kejauhan. Kamipun bersorak-sorak bahagia melihat pemandangan yang indah itu. Dan akhirnya kamipun tiba di halaman parkir Pantai Timang.

Sesampainya di halaman parkir, sejenak kami beristirahat disana, lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Spot andalan di pantai timang yaitu jembatan gantung dan gondalannya. Siang itu cuaca sangat cerah, kami ngobrol-ngobrol ringan Selama diperjalanan, ya walaupun kami baru bertemu beberapa jam, kami sudah seperti orang yang sudah lama berteman. Singkat cerita kamipun tiba di spot yang kami tuju

 Jembatan Gantung di Pantai Timang. Berani Coba?

Subbahanallah….
Pemandangan yang saya lihat siang itu benar-benar sangat indah. Batu karang yang berdiri dengan gagah serta ombak pantai selatan yang besar. Sejenak saya menghelakan nafas sejenak, karena gak nyangka bisa sampai di Pantai Timang dari Lampung dengan berbekalkan internet dan warga sekitar. Keindahan Pantai Timang yang saya lihat di Google, itu sama seperti yang saya lihat siang itu.


Namun ada beberapa hal yang menurut saya sangat disayangkan dari Pantai Timang ini, seperti jika ingin berfoto di spot foto yang disediakan itu berbayar, dan mau naik gondola atau menyebrang melalui Jembatan di Pantai Timang ternyata tarif-nya berbeda, jembatan gantung biayanya 100rb untuk wisatawan lokal dan wistawan mancanegara 150rb sedangkan harga naik gondola di Pantai Timang yaitu 150rb untuk wisatawan lokal dan 200rb untuk wisatawan mancanegara.

Berhubung saya sudah jauh-jauh dari Lampung ke Pantai Timang, saya pun gak mau ketinggalan untuk mencoba menyebrang menggunakan gondola di Pantai Timang dengan biaya 150rb. Menyebrang menggunakan gondola ini kapasitasnya maksimal 2 orang. Dan sensasi menyebrang menggunakan gondola itu ternyata seru banget. Bayangkan saya kita menyebrang dengan dibawahnya ombak pantai selatan yang cukup besar, pada saat itu saya mencoba mendokumentasikannya menggunakan hp jadul saya, saking bahagianya, hampir saja pada saat itu hp jadul jatuh ke bawah.. wkwk

Gondola!! Atraksi Yang Wajib dI Coba di Pantai Timang

Sesampainya di Batu Karang seberang, saya pun beristirahat disana sambil ngoborl dengan petugas disana, ternyata Pantai Timang ini dulunya menjadi lokasi syuting film Running Man dari Negeri Ginseng Korea di tahun 2013. Semenjak ditayangkannya Film Running Man itu, Pantai Timang ramai dikunjungi oleh wisatawan mancanegara terutama dari Asia seperti Korea, Malaysia dan Singapura.

Waktu itu saya juga sempat berbincang-bincang dengan salah satu wisatawan mancanegara dari Negara tetangga, namanya Nabil dari Pulau Langkawi, Malaysia. Nabil liburan ke Jogja bersama istri dan anak-anaknya selama 5 hari. Ia mengungkapkan bahwa Jogja itu indah dan warga lokalnya yang ramah-ramah. Serta ia berharap semoga suatu saat nanti ia bisa berlibur ke Jogja lagi.

Nabil bersama keluarganya di Pantai Timang

Satu jam kemudian, saya pun naik Gondola kembali untuk balik pulang, namun sebelum pulang, saya dan rombongan yang tadi nyasar bersama isitirahat sejenak di salah satu warung disana. Waktu itu saya memesan Indomie Goreng dengan Es Teh Manis (minuman favorit) wkwkwk..

Oiya, di Pantai Timang juga dilengkapi dengan beberapa fasilitas yang cukup memadai seperti warung, toilet dan mushola. Namun saya berharap semoga kedepannya akses jalan yang rusak menuju Pantai Timang segera diselesaikan, karena menurut saya saying banget wisata yang begitu sangat indah dengan banyak dikunjungi oleh wisman mancanegara, memiliki akses jalan yang buruk.

Sekitar pukul 15.00 WIB saya beserta rombongan pergi meninggalkan Pantai Timang Jogja, jujur rasanya saya belum puas untuk explore Pantai Timang, karena untuk menikmati keindahan waktu yang cukup lama, namun karena waktu yang singkat, saya harus meninggalkan pantai ini. Semoga suatu saat saya bisa berkunjung lagi ke pantai yang dikenal dengan gondola nya dan akses jalannya semakin membaik daripada sebelumnya.

Saya pun berpisah dengan rombongan yang tadi nyasar bareng dari pintu masuk Pantai Timang, sebab mereka melanjutkan ke perjalanan ke pantai yang selanjutnya untuk berburu sunset, saya lupa nama pantai nya namun yang jelas masih di Pantai Selatan, sedangkan saya ingin explore Bukit Paralayang Watugapit untuk berburu sunset juga.

Berikut ada foto-foto saya selama di Pantai Timang Jogja




**

Sekian tulisan saya kali ini tentang Pantai Timang Jogja. Dan sampai berjumpa di tulisan saya selanjutnya ^_^

****


Ketemu Jodoh di Kedai Filosofi Kopi Jogja


ROBBYYBIE.COM - Filosofi Kopi, ya pasti teman-teman sendiri sudah tidak asing dengan nama tersebut. Saya mengetahui Filosofi Kopi ini awalnya dari filmnya di tahun 2015 dan 2017. Menurut saya film nya sangat bagus, ringan, dan banyak pembelajaran yang bisa diambil dari filmnya.

Tapi disini saya tidak akan menjelaskan secara detail tentang Film Filosofi Kopi, sesuai dengan judul tulisan ini saya akan sedikit me Review Filosofi Kopi Jogja yang saya kunjungi pada akhir Januari 2019 yang lalu.

Rabu, 30 Januari 2019 merupakan hari ketiga saya di Jogja. Sekitar pukul 12.30 WIB saya baru saja selesai makan siang di Warung Kopi Klotok di daerah Sleman, Yogyakarta. Setelah selesai makan siang, saya mengarahkan kendaraan saya menuju Filosofi Kopi Jogja untuk sekedar bersantai-santai yang terletak di Jalan Pandhawa, Tegal Rejo, Kabupaten Sleman, Yogyakarta

Dari kopi Klotok menuju Filosofi Kopi berjarak 11 km atau menghabiskan waktu sekitar 23 menit. Siang itu cuaca di Sleman sangat cerah, dan saya sangat menikmati perjalanan siang itu. Sawah hijau di daerah Sleman membuat udara siang itu terasa seger dan bersahabat. Untuk lalu lintasnya, alhamdulillah lancar, tidak ada kemacetan sedikitpun

23 menit berlalu, saya pun tiba di halaman parkir Filosofi Kopi Jogja dengan menggunakan bekal Google Map, yappss Google Map sangat membantu saya selama Solo Travelling di Jogja, karena kalau tidak ada Google Map mungkin saya tidak bisa explore destinasi yang saya kunjungi di JogjašŸ˜‚

Dari halaman parkir saya berjalan menuju Filosofi Kopi Jogja sekitar 200 meter. Sesampainya di Filosofi Kopi Jogja, saya disambut suasana khas Jawa yang cukup kental, karena bar dan beberapa meja ngopi ada di dalam sebuah Joglo. Terlihat juga oleh saya, di depan Joglo juga ada area ngopi terbuka, jadi makin syahdu ngopi bersama orang tersayang. Namun sayang saya ngopinya cuman sendirianšŸ˜­


Ada rasa bangga tersendiri yang saya rasakan siang itu bisa menginjakkan kaki secara langsung di Filosofi Kopi Jogja, bagaimana tidak, dulu saya hanya bisa menikmati suasana disana melalui sebuah film, dan sekarang saya bisa ngopi sambil bersantai-santai ditempat yang saya tonton di bioskop dulu.

Siang itu, Filskop tidak terlalu ramai, sebab informasi yang saya dapat dari salah satu barista di Filskop, ramai nya itu dari sore hingga malam. Tanpa berpikir panjang, saya memesan kopi dan cemilan dari daftar menu filosofi kopi Jogja

Filosofi Kopi Jogja Menu

Ada berbagai macam menu yang tersedia di Filosofi Kopi Jogja, seperti kopi tiwus, kopi lestari, dan perfecto, espresso, cappuccino, caffe latte, macchiato, dan lainnya. Sedangkan untuk cemilannya yaitu french fries, lumpia, atau risoles yang bisa dipilih.



Saat itu saya memesan ice cappucino dengan cemilan french fries

Daftar Harga Filosofi Kopi Jogja

Untuk harga di Filosofi Kopi Jogja, menurut saya cukup terjangkau, yaitu mulai dari Rp.15.000 - 30.000 an. Waktu itu saya memesan ice cappucino dan french fries dengan biaya sekitar Rp.50.000 an

Fasilitas di Filosofi Kopi Jogja

Kedai Fasilosofi Kopi Jogja juga dilengkapi dengan beberapa fasilitas yang cukup memadai seperti parkir mobil dan motor, toilet, tempat yang luas dengan didukung Free WiFi sehingga nongki nya lebih Santuuy

**

Dari bar Filosofi Kopi Jogja, saya melihat seorang wanita menggunakan hijab berwarna putih duduk sendirian di pojokan, lalu saya izin untuk gabung duduk di meja nya

"Izin duduk disini ya mbak" pinta saya
"iya mas, silahkan" balas si mbak berhijab putih dengan suaranya yang merdu

Kamipun saling berkenalan satu sama lain, ternyata dia adalah seorang mahasiswi dari salah satu Universitas Negeri di Yogyakarta. Kamipun saling ngobrol-ngobrol ringan, lalu diiringi tertawa satu sama lain.

Jam demi jam pun kami lalui berdua di meja filosofi kopi, hingga tak terasa magrib pun tiba yang menandakan langit sudah mulai menggelap, lalu kamipun pergi meninggalkan kedai Filosofi Kopi Jogja dan diakhiri dengan makan malam di salah satu lesehan di Maliboro.

Ahh begitu indahnya malam itu

Tapi sayang, itu bohong,,,
Hiyaaa.. Hiyaaa.. Hiyaaa #ManusiaSetengahJomblo

*lalu di keplak netizen*

Ehhhmm....

Selama di Filosofi Kopi, saya sangat menikmati suasana di sana, karena tempatnya yang tenang dan mengasyikan. Di Filskop saya mencoba untuk menyelesaikan beberapa draft tulisan yang saya selesaikan dengan ditemani dengan ice cappucino. Untuk rasa kopinya sendiri menurut saya sangat nikmat dan harganya terjangkau di kantong semua kalangan. Tak terasa, sore pun tiba, lalu saya melanjutkan perjalanan  untuk pulang ke penginapan saya. Sebab esok nya merupakan inti dari perjalanan saya di Jogja yaitu explore Pantai Extream yaitu Pantai Timang yang akan saya ceritakan di tulisan selanjutnya.

***

Lampung Rasa Maldives di Pulau Tegal Mas Lampung



Ingin ngerasain sensasi berlibur seperti di Maladewa? Kini tak perlu lagi jauh-jauh kesana, karena di Lampung ada sebuah Pulau yang hampir seperti Pulau di Maladewa atau bisa dikatakan Lampung Rasa Maladewa. Pulau itu bernama Pulau Tegal Mas.

Rabu, 20 Maret 2019, saya bersama Masteguh, Putri, Ko Roni, Lucky dan Wirza, explore salah satu Pulau yang ada di Lampung, yaitu Pulau Tegal Mas yang terletak di Kabupaten Pesawaran, Lampung. Saat ini, banyak agent tour travel yang menyediakan Paket Wisata Ke Pulau Tegal Mas Lampung, namun pada saat itu, kami memilih berangkat tanpa menggunakan agent travel.

Pukul 09.00 WIB kami berkumpul di pom bensin lempasing, dari rencana sebelumnya jam 8, you know lah waktu Indonesia, hahaha… Singkat cerita ketika semuanya sudah berkumpul di pom bensin lempasing, kami melanjutkan perjalanan menuju Pulau Tegal Mas.

Sebelum ke Tegal Mas, terlebih dahulu kami membeli makanan dan cemilan selama di pulau nanti, karena tau sendiri, harga makanan di pulau kadang cukup mahal, maka daripada itu kami membeli makanan dan cemilan di Pasar Hanura untuk berhemat.

Oiya, untuk tiket masuk Pulau Tegal Mas Lampung menurut saya tarifnya ya lumayanlah, sebab sebelum memasuki Pulau Tegal Mas, terlebih dahulu kita memasuki Pantai Sari Ringgung dengan biaya Rp. 20.000/orang dan motor Rp. 5000. Setelah masuk ke Pantai Sari Ringgung, tepat sebelah kiri jalan ada plang masuk ke Pulau Tegal Mas, untuk tiket masuk Pulau Tegal Mas Lampung sekitar Rp.40.000/orang (sudah termasuk fasilitas seperti pondok-pondokan dan permainan air cano).

Setelah itu, kami memarkirkan motor kami disana, lalu melanjutkan perjalanan untuk nyebrang menuju Pulau Tegal Mas dengan biaya Rp.250.000/kapal (PP). Waktu tempuh menyebrang menuju Pulau Tegal Mas dari Pantai Sari Ringgung sekitar 15-20 menit perjalanan. Pagi itu cuaca sangat cerah dan langit yang membiru. Beberapa menit kemudian, dari kapal saya melihat cottage diatas air seperti di Maladewa, dan kapal kamipun tiba di Dermaga Pulau Tegal Mas dan kami disambut dengan plang Welcome To Tegal Mas Island.


Pagi itu suasana di Pulau Tegal Mas tidak terlalu ramai, sebab kami kesana pada saat weekday. Karena cuaca yang cukup terik siang itu, kamipun segera bergegas untuk mencari pondok untuk beristirahat. Sesampainya di pondok kami beristirahat sejenak sambil menikmati pemandangan di sekitar Pulau Tegal Mas.

Saya akui, Tegal Mas memiliki pesona keindahan yang sangat luar biasa. Bahkan saya seperti bukan lagi di Lampung. Pasir pantainya yang bersih, dan air lautnya yang biru. Pokoknya indah bangettt.. Saya pun tak mau ketinggalan moment indah ini dengan mendokumentasikannya melalui kamera saya..

Cekrekkk.. Cekrekkkk…


 Pulau Tegal mas juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang memadai, seperti mushola diatas air laut, kafe, pondok-pondokan, dan tempat penginapan. Oiya untuk harga penginapan Pulau Tegal Mas Lampung sendiri itu mulai dari 1jt – 3jt, tergantung jenis kamar yang diinginkan, namun saya lebih merekomendasikan di penginapan lumbok, karena tempatnya ala-ala Maldives!!

Saya, Ko Roni dan Wirza berkeliling Pulau Tegal Mas untuk mengambil gambar, sedangkan Masteg, Putri dan lucky menjaga barang-barang di pondok, siang itu cuacanya benar-benar panas banget, sehingga saya memilih berteduh dan tidak terlalu banyak mengambil gambar. Dan setelah selesai kamipun bergantian menjaga barang-barang dan yang lainnya berfoto-foto di sekitaran Pulau Tegal Mas.

Sekitar pukul 12 siang, kamipun berkumpul untuk makan siang dengan bekal Nasi Ayam Bakar RM. Ika yang kami beli di Pasar Hanura tadi. Makan siang itu terasa sangat nikmat, karena lapar dan suasanya yang mendukung. Selesai makan, yang niatnya mau keliling lagi malah mager, karena kekenyangan dan cuacanya yang terik, akhirnya kami memilih untuk beristirahat sambil bergurau di pondokan.

Singkat cerita, pukul 3 sore, kami geser menuju villa lumbok, dimana villa lumbok merupakan ciri khas dari Pulau Tegal Mas, seperti yang saya sebut sebelumnya, ala-ala di Maldives. Pada saat itu beberapa villa di Lumbok dalam tahap pengerjaan, kamipun tak lupa juga untuk mendokumentasikan keindahan di Villa Lumbok.




Setelah selesai berfoto-foto di Villa Lumbok sekitar jam 4, kamipun bergegas untuk pulang dan mengakhiri hari itu dengan menonton Film Thiller US di XXI Mall Boemi Kedaton. Sesampainya dirumah langsur tepar dan beristirahat..

Malioboro Istimewa



Malam itu, 28 Januari 2019 merupakan hari pertama saya di Jogja. Setelah selesai explore Keraton Jogja dan Kalibiru, malam nya saya melanjutkan untuk keliling Malioboro Jogja. Kata orang, belum lengkap ke Jogja kalau belum ke Malioboro. Ya bisa dikatakan Malioboro merupakan iconic dari Kota Jogja sekaligus pusat perbelanjaan bagi yang suka berbelanja di Malioboro.

Setelah selesai sholat Magrib di penginapan Red Doorz STIE YKPN Jogja, saya berangkat menuju Malioboro menggunakan Honda beat yang saya rental di Andies Motor Jogja. Untuk menuju Malioboro dari penginapan saya membutuhkan waktu sekitar 10 menit. Malam itu Jogja terasa tenang dan arus lintasnya tidak terlalu padat.

10 menit kemudian, saya pun tiba di Malioboro. Terlihat antrian kendaraan sangat padat pada malam itu. Saya pun berusaha mencari tempat parkiran motor, dan tepat di sebelah Malioboro Mall saya memberhentikan kendaraan saya dan parkir disana. Kemudian saya berjalan kaki mengelilingi Malioboro.

Sesampainya di Malioboro saya mengambil uang terlebih dahulu di Malioboro Mall untuk jaga-jaga di dompet. Malam itu Malioboro sangat ramai, telihat oleh saya, orang-orang sedang asyik berfoto-foto di plang Tulisan Jalan Malioboro, ada juga yang bersantai-santai duduk dengan orang tersayang mereka. Sebagai seorang Manusia Setengah Jomblo, malam itu saya merasa bagaikan lagi uji nyali.

Ya.. pada saat itu saya keliling Malioboro tanpa kekasih ataupun sahabat. Namun saya tetap berusaha kuat dengan terus berjalan menikmati suasana Malioboro.

Dan tak jauh dari Malioboro Mall saya melihat sekelompok orang sedang berkumpul mengelilingi seseorang. Lalu saya mencoba untuk melihat, ternyata ada seorang bapak yang sedang menyanyikan beberapa. Saya pun ikut bergabung denga kelompok itu.

Pada malam itu, si bapak menyanyikan lagu demi lagu. Dari lagu Jazz Dari Mata hingga lagu AKAD oleh Payung Teduh. Pada saat si bapak menyanyikan lagu Akad, Lagu yang dinyanyikan bapak itu sangat merdu, semua orang disana ikut bernyanyi dengan bergembira dengan pasangannya dan ada juga yang saya lihat dibelakang saya seorang wanita yang meneteskan air mata bersama pasangannya.


Walaupun pada saat itu saya sendiri,  namun saya benar-benar merasakan keistimewaan dari Malioboro. Malioboro memiliki keunikan serta kebahagiaan yang tersendiri. Dan pada malam itu saya mulai merasakan jatuh cinta dengan Kota Jogja.

Pada saat bapak itu bernyanyi, Orang-orang disekitaran kelompok itu memberikan uang ribuan kepada si bapak. Walaupun bapak itu *maaf* memiliki kekurangan di penglihatannya, namun saya sangat kagum dengan bapak itu karena suaranya yang merdu banget.

Beberapa menit kemudian, saya bergeser dari rombongan itu, dan menuju ke salah satu toko untuk membeli kaos Jogja. Ya gak lengkap rasanya mengunjungi suatu daerah jika belum membeli kaos lokal sana :D hehehe

Pada saat itu, saya memberi 2 kaos Jogja serta 1 kaos Jogja, karena pada saat ke Jogja saya tidak terlalu banyak membawa pakaian dari Lampung dan sandal. Setelah berbelanja, saya mengakhiri malam itu dengan makan nasi kucing di salah satu warung angkringan yang tidak jauh dari Malioboro.

Pada saat makan, saya cukup kaget, karena harga makanan nasi kucing sangat mura, malam itu saya makan nasi, es teh manis serta berbagai macam lauk, dan saya cuman kena 9rb, udah kenyang dan rasanya pas di lidah saya.


Sungguh murahnya biaya hidup di Jogja, sampai saat itu saya bilang ke Mama saya di Lampung
“Ma.. lulus kuliah obi kerja di Jogja ya.. hehehe” ujar saya melalui sambungan telepon
“Lah? Baru sehari di Jogja udah pengen tinggal disana?” balas mama

……………….


Explore Wisata Tanjung Harapan di Kawasan Batu Tegi, Tanggamus


 

Lampung..
Bagi saya Lampung adalah rumah kedua bagi saya, karena provinsi yang terletak di ujung Pulau Sumatera itu banyak sekali menyimpan destinasi wisata yang indah, dari daratan, lautan hingga pegunungan semua ada di Lampung.


Pagi itu  (18/01/2019), sekitar pukul 08.30 WIB saya bersama Om Yopie, Om Dito, Masteguh dan Tante Rahma, kami berangkat dari Bandar Lampung menuju Tanggamus untuk mengunjungi salah satu destinasi baru disana, kalau bahasa jaman now nya “Piknik Tipis” lah… hehe

Destinasi yang kami kunjungi yaitu Wisata Tanjung Harapan yang terletak di kawasan Bendungan Tegi Tanggamus. Destinasi tsb beberapa hari yang lalu baru diresmikan oleh Kepala Dinas Kehutan Provinsi Lampung mewakili Gubernur Lampung.


Singkat cerita, untuk menuju Wisata Tanjung Harapan kami melalui Desa Talang 20, Kecamatan Air Naningan. Namun juga bisa langsung melalui Dermaga Bendungan Batu Tegi. Sekitar pukul 11.00 WIB kami tiba di Desa Talang 20 dan disambut oleh pokdarwis setempat. Sesampainya disana, kami beristirahat sejenak sambil ngopi dengan Kopi Tanggamus. Jujur, saya tidak termasuk orang yang suka kopi hitam, namun pada saat itu karena kopi nya sudah dihidangkan oleh tuan rumah, dan ketika saya minum kopi nya terasa nikmat, ya kopi tsb merupakan kopi yang langsung diolah oleh warga setempat dari biji kopi menjadi bubuk kopi hitam.

Sungguh nikmat kopi hitam siang itu..

Mereka juga memberikan kami cemilan tradisional yaitu asinan buah lempau yang berasal dari buah lempau. Mereka yang membuat sendiri dan di asinan buah lempau itu banyak sekali manfaatnya untuk kesehatan. Rasa dari asinan buah lempau itu itu asin dan juga gurih. Ini pertama kalinya saya makan buah lempau.

Asinan Buah Lempau

Beberapa menit kemudian, mereka sudah mempersiapkan untuk menuju ke Wisata Tanjung Harapan, dan kami pun bergegas untuk menuju dermaga yang lokasinya cukup jauh, ya menghabiskan waktu sekitar 5-8 menit untuk trecking. Disepanjang jalan, ternyata banyak juga spot-spot yang dijadikan sebagai tempat foto dan saya tak lupa untuk mengabadikan moment tsb.



Sesampainya di dermaga, kami langsung naik ke atas perahu dan saya kebagian duduk di depan. Untuk menyebrang dari dermaga Desa Talang 20 menuju Wisata Tanjung Harapan membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Pada saat itu cuaca terlihat mendung, dan ditengah perjalanan kami terjebak hujan, namun kami tetap melanjutkan perjalanan walaupun pakaian saya basah terkena air hujan.

Satu jam kemudian, kamipun tiba di dermaga Wisata Tanjung Harapan dengan disambut suara jangkring dan suara siamang yang khas, dan dari dermaga kami melanjutkan tracking keatas, ya saya sebagai orang yang jarang jalan kaki cukup lelah untuk nanjak keatas, pada saat itu cuacanya gerimis gerimis manja.. hehehe

Sesampainya diatas, saya langsung rebahan di sebuah pondok, cukup melelahkan bagi saya yang jarang olahraga.. hahaha

Dan ketika saya terbangun dari rebahan lalu saya lihat pemandangan disekitaran saya, subbahanallah saya cukup takjub dengan keindahan Bendungan Batu Tegi dari atas, Bendungan yang dinobatkan sebagai Bendungan terbesar se Asia Tenggara ditambah dengan cuacanya yang adem dan tidak banyak orang, sebab Wisata Tanjung Harapan ini mulai dibuka untuk umum tanggal 20 Januari 2019.

Oiya, saya lupa nih. Untuk biaya penyebrangan dari Desa Talang 20 ataupun dari Dermaga Bendungan Batu Tegi itu dikenakan biaya Rp.150.000/kapal dengan kapasitas 6 orang, satu orangnya sekitar 25 rb an lah. Dan sesampainya di Wisata Tanjung Harapan, biaya masuknya Rp.10.000/orang

Ada apa saja sih di Tanjung Harapan?

Mungkin  kalian pada bertanya-tanya kan?
Huuhhh.. sabar saya ambil nafas dulu…

Jadi di Wisata Tanjung Harapan ini banyak sekali spot-spot yang bisa dijadikan untuk tempat berfoto-foto guys. Salah satunya foto dibawah ini yang saya ambil dengan Inframe Masteguh. Konsep spot foto yang satu ini menurut saya cukup unik dan baru kali ini saya lihat di Lampung, serta disekelilingnya ada tanaman buah-buahan. Asik banget kan?


Lalu ada juga yang menarik di Wisata Tanjung Harapan ini yaitu Flying Fox guys dengan panjang sekitar 250 meter, cukup panjang dan sangat menguji andrenalin, dan pada saat itu saya tidak bisa menaiki flying fox nya karena maksimal berat badannya 80 kg, sedangkan saya diatasnya.. huhuhu jadi sedih..


Selain itu buat kalian yang mau nginap atau nge camp di Tanjung Harapan juga disediakan tempat penginapan dengan biaya mulai dari Rp.25.000/orang. Kalau menurut saya, harga segitu terjangkau banget. Dan didukung dengan fasilitas yang cukup memadai seperti toilet, warung, dan mushola.


Dan di Wisata Tanjung Harapan ini juga ada terdapat beberapa rumah pohon, jadi kita bisa melihat lebih tinggi lagi keindahan dari Bendungan Batu Tegi.


Setelah 2 jam kami berada di Wisata Tanjung Harapan, kami pun segera bergegas turun menuju ke dermaga untuk pulang, dan pada saat turun dari Tanjung Harapan menuju dermana, jalannya cukup licin dari hujan, sehingga membuat saya tergelincir. Alhasil celana bagian saya kotor, wkwkwk…

Lalu kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Talang 20 untuk persiapan pulang ke Bandar Lampung dan sesampainya disana kami dihidangkan Nasi Putih, Indomie Rebus dengan cabe rawit, ikan goreng nila dan sambal terasi oleh salah satu penduduk setempat. Walaupun menu makanannya sederhana, namun terasa nikmat dan istimewa. Saya menikmati makanannya dengan lahap, mungkin ini efek karena saya belum makan nasi dari pagi dan ditambah lagi dengan tracking yang lumayan menguras tenaga. Hihihi

Tak terasa senja pun tiba, dan kami pun segera bergegas untuk pulang ke Bandar Lampung. Warga Desa Talang 20 sangat ramah dengan tamu yang hadir. Semoga suatu saat saya bisa kesana kembali.

Di perjalanan terlihat senja yang begitu sangat indah, lalu kami berhenti di tengah jalan dan mengabdikan moment senja di sore itu.

Senja Sore Itu..

Sekian cerita saya kali ini tentang Wisata Tanjung Harapan di Tanggamus. Sampai bertemu ditulisan saya selanjutnya