Berfoto Ala-Ala Jepang di Bukit Sakura Lampung



Lampung merupakan sebuah Provinsi yang terletak di ujung Pulau Sumatera atau bisa dikatakan Gerbangnya Pulau Sumatera untuk menuju ke Pulau Jawa. Di ujung Pulau Sumatra ini banyak sekali menyimpan Destinasi-destinasi wisata yang begitu sangat indah, dari daratan, penggunungan, serta lautan. Semuanya ada di Lampung.

Nah Jika kalian sedang berada di Kota Bandar Lampung nih guys, ada baiknya kalian mengunjungi Destinasi Wisata yang satu ini yaitu Bukit Sakura. Akhir-akhir ini Bukit Sakura ramai diperbincangkan oleh Netizen terutama Netizen di Instagram karena bentuknya seperti ala-ala di Jepang. Bisa dikatakan Lampung Rasa di Jepang, karena disetiap sudut di Bukit Sakura terdapat bunga yang berbentuk Bunga Sakura.

Alamat Bukit Sakura

Bukit Sakura terletak di Jalan Batukalam, Kecamatan Langkapura, Kota Bandar Lampung. Untuk Rute menuju Bukit Sakura, Jika kalian dari Pasar Bambu Kuning itu melewati Jalan Imam Bonjol arah menuju Kemiling, setelah melewati Universitas Saburai lalu ada pertigaan dan tidak jauh dari pertigaan Universitas Saburai terdapat Rumah Sakit Ibu dan Anak SINTA.

Dan diseberang Rumah Sakit Ibu dan Anak SINTA adalah jalan Batukalam yang disebelahnya Bakso Solo, masuk kedalam kira-kira sekitar 1 km dari Jalan Imam Bonjol, Nah disitu tempatnya Bukit Sakura Lampung atau jika kalian bingung, kalian juga bisa searching di Google Map dengan kata kunci Bukit Sakura.

Harga Tiket Masuk Bukit Sakura Lampung

Ketika saya memasuki Bukit Sakura pada 21 Oktober 2018, untuk Harga Tiket Masuk Bukit Lampung itu dikenakan biaya Rp.10.000/orang. Dan ditambah dengan uang parkir motor Rp.2.000 dan untuk mobil Rp.5.000.

Menurut saya, Harga Tiket Masuk Bukit Sakura Lampung diatas termasuk worth it karena sesuai dengan fasilitas yang didapat untuk berlibur bersama orang tersayang ke Bukit Sakura

Fasilitas di Bukit Sakura Lampung

Dengan mengeluarkan biaya tiket masuk ke Bukit Sakura sekitar Rp.10.000/orang. Disana kalian bisa menikmati beberapa Fasilitas yang sudah disediakan oleh petugas Bukit Sakura yaitu Gazebo, Ayunan Bambu, Kantin, Mushola, Toilet, dan pastinya Spot-spot foto yang ala-ala di Jepang seperti yang sudah saya sampaikan diatas.

Pastikan ketika kalian ke Bukit Sakura sudah menyiapkan kamera, entah itu kamera hp, kamera dslr, kamera mirroles ataupun sejenisnya untuk mengabadikan momen terindah kalian di Bukit Sakura Lampung.

Oiya, di Bukit Sakura Lampung, kalian juga bisa menikmati indahnya Kota Bandar Lampung dari ketinggian. Kalau bagusnya sih menurut saya, itu pada malam hari, sekitar setelah selesai sholat Magrib. Karena pada malam hari, kalian bisa menikmati kelap kelip Kota Bandar Lampung. Sambil duduk di Gazebo yang sudah disediakan bersama orang yang kita sayangi. Pastinya indah banget ya guys.

**

Berikut adalah foto-foto yang saya ambil pada 21 Oktober 2018 yang lalu di Bukit Sakura dengan Inframe adik kandung saya







Kuliner Lampung : Menikmati Sepiring Sate Madura Bu Bibah


Malam itu sekitar pukul 23.00 WIB tiba-tiba perut saya terasa lapar. Saya pun bergegas keluar rumah dengan mengendarai motor matic kesayangan saya untuk mencari kuliner malam di Bandar Lampung City, Lampung. Seketika saya jadi kepikiran dengan sate ayam yang terakhir saya coba sebulan lalu. Lokasinya tidak jauh dari rumah saya, ya sekitar 3-5 menit jaraknya dari rumah saya.

Sate itu adalah Sate Madura dari Bu Bibah yang terletak di Jalan Imam Bonjol (seberang SDN 1 Langkapura), Langkapura, Bandar Lampung. Sate Pinggir jalan yang rasanya tak kalah dengan sate ternama yang lainnya. Entah kenapa saya lebih menyukai makanan di pinggir jalan daripada di cafe ataupun restoran. Bukan soal uang, tapi soal rasa. Mungkin Sate Bu Bibah ini kuliner lampung 2018 yang tak terkenal dengan kuliner yang lainnya, sebut saja seperti sate cak umar, Mie Khodon, bakso sony, els coffe ataupun yang lainnya.

Bu Bibah

Sesampainya saya di Sate Madura  Bu Bibah, saya pun memesan pesanan saya seperti biasa yaitu sate ayam dengan lontong. Untuk harganya cukup terjangkau yaitu hanya Rp.20.000/porsi (sudah termasuk lontong/nasi), jika tidak menggunakan lontong/nasi harganya Rp.15.000/porsi dengan 10 tusuk sate. Selain Sate Ayam juga ada Sate Kambing yang harganya Rp.23.000/porsi (sudah termasuk lontong/nasi) dan jika hanya sate kambingnya saja artinya tidak pakai lontong ataupun nasi harganya Rp.18.000/porsi dengan 10 tusuk sate kambing.

Taraaaa... Sate Madura Bu Bibah

Untuk rasanya, Sate bu Bibah ini sama dengan Sate Madura yang lainnya, namun yang saya suka dari Sate Ayam Bu Bibah ini tekstur dari daging sate ayamnya itu lembut dan bumbu kacangnya yang medok. Selain itu Bu Bibah ini orangnya ramah kepada setiap pembelinya. Kalau diajak ngobrol ibunya welcome.

Bagi saya, seenak apapun masakan dari seorang pedagang kalau orangnya tidak ramah dengan pembelinya otomatis saya cukup sekali saja belanja di tempat makan itu. Sedikit flashback ke belakang. Saya dulu pernah membeli Mie Goreng yang lokasinya di Kedaton, Bandar Lampung. Pada saat itu makanan saya lama banget datangnya hampir sejaman, padahal disebelah saya yang datangnya baru datang dan sudah dikasih duluan. Ketika saya bertanya ke pedagangnya, kapan pesanan saya tiba, dia balasnya dengan jutek. Walaupun masakannya saya akui enak, tapi saya cukup sekali makan disana karena keramahannya kurang terhadap pembelinya.

*Oke kembali ke Sate Bu Bibah*

Ketika Bu Bibah sedang membuat pesanan saya, saya pun mencoba ngobrol-ngobrol sedikit dengan Bu Bibah. Ternyata Bu Bibah ini perantauan dari Madura yang berusia 62 tahun dan Bu Bibah sudah berjualan sate di Bandar Lampung selama 18 tahun. Bu Bibah berjualan Sate Madura ini ditemani juga oleh Suaminya yang saya lupa menanyakan nama suaminya. Jujur, saya merasa salut dengan Bu Bibah, karena di Usia tuanya, Bu Bibah tetap bersemangat untuk berjualan sate madura dari jam 2 siang sampai jam 1 malam demi rezeki yang halal. Belum lagi untuk mempersiapkan kebutuhan sebelum dagang seperti belanja dipasar, masak bumbu kacang dan nusuk daging sate.

Bu Bibah pun bercerita kepada saya bahwa dagangannya akhir-akhir ini mulai sepi. Namun saya hanya bisa bilang ke Bu Bibah

“Sabar bu.. Rezeki ga bakalan kemana-mana bu” ujar saya

Beberapa menit kemudian, tak terasa sate sepiring di depan sate saya sudah habis. Yang tersisa hanyalah lidi tusukan sate. Saya akui sate Bu Bibah ini beneran enak dan buat kalian yang baca tulisan ini dan lagi di Bandar Lampung. WAJIB banget untuk nyobain Sate Madura dari Bu Bibah

**

Mungkin sekian dulu tulisan saya kali ini tentang “Kuliner Lampung : Menikmati Sepiring Sate Madura Bu Bibah” dan sampai jumpa di tulisan saya selanjutnyaa... *peluk online*

****

Tag : Kuliner Lampung Yang Terkenal
         Kuliner Lampung 2018
         Kuliner Lampung Murah
         Kuliner Lampung Instagram




Berlibur ke Kebun Raya Liwa : Kebun Raya Pertama di Sumatera



Lampung Barat adalah salah satu Buckedlist yang ingin saya kunjungi. Dan pada 3 Agustus 2018 yang lalu, saya bersama 6 orang teman satu kuliah saya berangkat dari Bandar Lampung menuju Lampung Barat menggunakan sepeda motor. Kami berangkat pukul 5 subuh dan tiba di Liwa sekitar pukul 2 siang.

Singkat cerita sesampainya di rumah teman saya yang bernama Awal, dia adalah teman satu jurusan saya di Teknik Sipil, kami beristirahat sejenak dan sore hari nya kami mengunjungi destinasi di Liwa hari pertama yaitu Wisata Kebun Raya Liwa

Peresmian Kebun Raya Liwa
Kebun Raya Liwa ini diresmikan pada 5 Desember 2017. KRL ini merupakan Kebun Raya Pertama di Pulau Sumatera.

Lokasi Kebun Raya Liwa
Alamat Kebun Raya Liwa yaitu di Pekon Way Mengaku, Kecamatan Balik Bukit, Kota Liwa, Kabupaten Lampung Barat. Letaknya sangat strategis yaitu dalam areal rumah Dinas Bupati Lampung Barat dan tidak jauh dari pusat Kota Liwa, sekitar 3-4 menit. Atau kalian juga bisa search lokasinya di Google Map dengan kata kunci “Kebun Raya Liwa”

Kebun Raya Liwa ini memiliki pemandangan alam yang begitu sangat indah. Terletak di Kawasan Pegunungan Bukit Barisan dengan ketinggian mencapai 949 Mdpl. Suasana di Kebun Raya Liwa ini benar-benar nyaman dan indah, selain itu udaranya juga sejuk.

Di Kebun Raya Liwa memiliki konsep taman tematik, berakanekaragam tanaman yang terdapat di KRL ini seperti tanaman buah, tanaman hias, tanaman obat-obatan dan yang lainnya. Kontur tanah yang berundak-rundak dan dikelilingi bukit barisan, membuat para pengunjung termasuk saya sendiri betah berada disini :D

Biasanya, Kebun Raya Liwa ini ramai dikunjungi oleh pengunjung pada sore hari dan waktu libur atau akhir pekan.

Selain memiliki banyak jenis tanaman dan panorama alam yang indah. Di Kebun Raya Liwa juga memiliki banyak fasilitas diantaranya Spot foto yang Instagramble, ini cocok bangett untuk kalian yang suka foto-foto untuk di upload di Media Sosial, Area Parkir, Mushola, Toilet, Kantin, dan Gazebo

Harga Tiket Masuk Kebun Raya Liwa
Untuk memasuki Kebun Raya Liwa ini sama sekali tidak dipungut biaya alias GRATIS. Hanya saja membayar uang parkir kendaraan Rp.3.000 untuk motor dan Rp.5.000 untuk mobil yang dijaga oleh penduduk sekitar KRL. Walaupun GRATIS, selalu jaga fasilitas di Kebun Raya Liwa ya guys, jangan sampai merusak dan jangan buang sampah sembarangan.

Berikut adalah Gambar Kebun Raya Liwa


Selfie di KRL

Ngopi di KRL

Petunjuk Arah

Spot Foto

Taman Buah

Gazebo

Spot Foto Warna-Warni

Toilet

Mushola



Taman Hias


Parkir Motor




Nagari Pariangan : Desa Terindah di Dunia Ada di Sumatera Barat



Wisata Sumatera Barat - Banyak orang yang belum tahu termasuk dulu saya sendiri bahwa di Sumatera Barat yang merupakan tanah kelahiran saya, ada sebuah desa terindah dunia. Awal yang mengetahuinya dari salah satu acara stasiun Televisi. Pada saat itu mama berada di sebelah saya dan sekilas saya melihat tayangannya, terlihat desa itu sangat indah, banyak persawahan dan bangunan tua.

“kalau kita mudik Padang nanti kita mampir kesana ya” ujar mama saya secara spontan
“iya ya ma, obi baru tau ternyata di Sumbar ada desa yang keindahannya sudah diakui oleh dunia” balas saya

Karena masih belum percaya, saya mencoba untuk searching di Google tentang Desa Terindah itu. Setelah saya searching, ternyata benar, desa itu bernama Nagari Pariangan yang terletak di Lereng Gunung Marapi, Tanah Datar, Sumatera Barat. Seketika saya jadi pengen untuk menyaksikan secara langsung keindahan dari Nagari Pariangan itu secara langsung.



FYI, belum banyak orang yang tahu tentang Nagari Pariangan ini, namun para turis sudah mulai menyadarinya keberadaan Desa Terindah itu terbukti dari meningkatnya kunjungan wisman terlebih saat event internasional tahunan di Sumatera Barat yaitu Tour De Singkarak.

Negeri Pariangan itu termasuk dalam daftar 5 desa terindah di dunia versi Budget Travel disandingkan dengan 4 desa lainnya yaitu Desa Wengen di Swiss, Desa Eza di Prancis, Desa Niagara on the Lake di Kanada dan yang terakhir Desa Cesky Krumlov di Ceko.

Beberapa bulan kemudian, tepatnya H-3 lebaran. Papa mengajak kami sekeluarga mudik ke Padang secara dadakan. Sontak kami kaget dengan ajakan papa secara dadakan, padahal mudik lebaran tahun 2018 tidak pernah direncanakan sama sekali.

Singkat cerita, kami sampai di Padang pada malam takbiran dan H+5 lebaran kami sekeluarga pergi ke Tanah Datar untuk menyaksikan Keindahan Desa Nagari Pariangan yang diakui oleh dunia sebagai Desa Terindah di Dunia secara langsung.

Yeeeaaayyyyy!!!

Menuju Desa Nagari Pariangan

Kami berangkat dari Kota Padang dari pukul 10.00 WIB dan tiba di Desa Nagari Pariangan sekitar pukul 15.00 WIB atau jaraknya sekitar 93 km. Yaa perjalanannya cukup lama karena di pertengahan jalan yaitu tepat di Padang Lua sampai Bukittinggi terjadi kemacetan yang cukup panjang. Kemacetan di lokasi ini sering terjadi apalagi memasuki waktu libur dan lebaran.

Untuk akses jalannya, karena ini adalah perjalanan pertama kami ke Nagari Pariangan, kami menggunakan Google Maps dengan kata kunci “Desa Terindah Pariangan” dan Alhamdulillah kami sampai ke tujuan yang kami tuju. Selama di perjalanan saya melihat berbagai pemandangan yang begitu yang sangat indah, dari Air Terjun Lembah Anai, persawahan dan perkebunan teh dan rumah-rumah gonjong limo khas dari Sumatera Barat.

Pemandangan Gunung Singgalang selama di perjalanan

**

Sesampainya di pintu masuk Desa Nagari Paringan, kami dikenakan biaya masuk sekitar Rp.10.000/mobil. Dan ketika memasuki Desa Nagari Pariangan, hawa-hawa dingin dari lereng Gunung Marapi itu mulai terasa dan rumah-rumah penduduk Desa Nagari Paringan yang mayoritas rumah gadang yang sudah berusia ratusan tahun mulai terlihat.


FYI lagi nih, Desa Nagari Pariangan merupakan Desa yang tertua di Sumatera Barat. Kearipan lokal penduduk Nagari Pariangan tetap terjaga dari zaman dulu sampai sekarang. Karena Kearipan lokal mereka gunakan sebagai modal untuk mengembangkan desa mereka yang penuh dengan sejarah.

Pada saat itu, saya tak lupa saya untuk mendokumentasikan pengalaman pertama saya selama di Desa Tertua dan Terindah di dunia itu dengan berfoto selfie, tapi sebelum berfoto selfie saya meminta izin dulu ke pemiliki rumah dan saya pun diizinkan untuk berfoto di depan rumahnya.


Penduduk sekitar Nagari Pariangan sangat ramah dengan pengunjung yang datang ke Desa mereka. Namun kita sebagai pengunjung harus bisa menjaga sopan dan santun selama di Desa Nagari Pariangan, karena adat istiadat Desa Nagari Pariangan sangat terjaga.

Setelah berfoto kami mengarahkan mobil kami ke puncak Desa Nagari Pariangan, dan disitu Rest Area lalu kami  beristirahat disana dan sambil berfoto-foto disana.

Rest Area

Subbahanallah...

Pemandangannya begitu benar-benar indah sama seperti apa yang saya lihat di Televisi dan Internet. Di Rest Area itu tidak hanya kami saja disana, banyak pengunjung saya berasal dari luar daerah, lebih dominan plat kendaraan di Pulau Jawa.







Tak terasa beberapa jam kemudian, langit mulai gelap dan kamipun segera bergegas untuk pulang ke Padang. Jujur sebenarnya saya belum puas untuk explore Nagari Pariangan ini, karena ada 2 tempat yang belum saya kunjungi yaitu pemandian air panas dan Masjid Ishlah yang merupakan Masjid tertua di ranah Minang. Namun karena keterbatasan waktu karena saya nyampe disana jam 15.00 WIB mau ga mau saya harus pulang. Karena besoknya perjalanan untuk balik ke Lampung. Mungkin suatu saat saya bakal kesini lagi.

Oiya, Buat kalian yang ingin berlama-lama menikmati keindahan di Nagari Pariangan juga disediakan Home Stay dengan tarif sekitar 500rb/rombongan.

**

Oke sekian cerita dari pengalaman pertama saya selama di Desa Terindah di Dunia yaitu Nagari Pariangan. Semoga bisa menjadi referensi untuk teman-teman semua. Vlog perjalanan saya selama di Nagari Pariangan segera menyusul di Channel youtube saya ^_^

****

Segelas Aia Aka Yang Di Rindukan dan Ini Manfaatnya Untuk Kesehatan

Malam itu, Jum’at 22 Juni 2018 adalah malam terakhir saya di Kota Padang. Di Malam terakhir itu saya mencoba untuk mengelilingi Kota Padang sambil bernostalgia masa kecil saya dulu menggunakan sepeda motor adik sepupu saya.

Seketika mata saya tertuju ke arah penjual Aia Aka di daerah Pasar Siteba Padang. Selama merantau di Lampung saya tidak pernah menemukan menemukan Aia Aka ini. Tanpa berpikir panjang saya memarkirkan motor lalu memesan segelas Aia Aka.


Aia Aka (Air Akar) adalah salah satu minuman tradisional khas Sumatera Barat yang berbahan dasar cincau hijau. Cincau hijau tersebut berasal dari racikan daun cincau yang diolah secara tradisional. Dalam penyajiannya, Aia Aka ini disajikan dengan air jeruk nipis dan juga santan kental yang manis. Kurang lebih seperti cendol pada umumnya.

Aia Aka

Pada saat itu cuman saya sendiri pembelinya. Jadi momen-momen terakhir di Kota Padang saya mencoba untuk berbicara kepada penjual Aia Aka itu. Ternyata namanya adalah Pak Amir. Pak Amir saat ini berusia 59 tahun dan berjualan Aia Aka sejak tahun 1992.

Lalu saya mencoba bertanya asal usul Aia Aka di Ranah Minang. Pak Amir lumayan banyak memberikan penjelasan kepada saya asal usul dari Aia Aka. Tapi karena saya besarnya di Rantau orang jadi bahasa Minang saya tidak terlalu fasih, namun yang saya ingat, penjelasan dari beliau bahwa Aia Aka berasal dari daun kacang yang diolah menjadi cincau hijau. Lalu Cincau Hijau itu disajikan dengan air jeruk nipis dan santan kental yang manis.

Selanjutnya saya menanyakan manfaat dari Aia Aka itu. 

Beliau menjawab “Untuak manfaatnyo aia Aka ko untuk malapeh awuih jo mandinginkan di dalam paruik atau ubek paneh dalam, ancak ko mah” artinya dalam Bahasa Indonesia “Untuk manfaat dari Aia Aka ini untuk melepas rasa haus dan mendinginkan di dalam perut atau bagus untuk obat panas dalam”

Lalu kamipun asik mengobrol sambil tertawa-tawa. Walaupun baru pertama kali saya bertemu dengan Pak Amir, namun rasanya beliau sudah seperti saudara saya sendiri. Momen ini adalah salah momen yang saya rindukan. Yang pertama saya bisa bertemu dan berkenalan dengan orang baru dan yang kedua saya bisa berinteraksi menggunakan bahasa Minang. Selama di rantau saya menggunakan bahasa Minang hanya bersama kedua orang tua saya.

Dalam sehari, Pak Amir mendapat uang jual beli sebesar 300-350rb. Beliau selalu bersyukur karena bisa menafkahi keluarganya dengan berdagang yang halal. Sekali2 beliau bercanda kepada saya
“Kalau hasil jualan Aia Aka ko lai cukuik lah untuk biaya Sahari-hari apak dirumah, tapi ndak bisa untuak kayo doh. Hahaha”
Atau dalam bahasa Indonesianya “kalau hasil jualan Aia Aka ini bisa cukup untuk kebutuhan keluarga sehari-hari dirumah tapi tidak bisa untuk kaya. Hahaha”
Lalu saya pun membalas “yang penting bapak dan sekeluarga selalu diberi kesehatan dan kebutuhan yang cukup ya pak”
“Iyo diak, Alhamdulillah” jawab pak Amir 

Tak terasa Aia Aka saya sudah habis. Dan pembeli pun mulai berdatangan. Saya memesan 3 bungkus Aia Aka untuk saya bawa pulang. Tak lupa saya mendokumentasikan momen itu.

“Ndehhh mir, di poto pulo ang mir” atau artinya “ondeh mir, difoto pula kau mir” ujar uni penjual sate disebelah lapak pak Amir sambil tertawa
Saya dan pak Amir juga ikut tertawa

Setelah pesanan saya selesai, saya bayar lalu izin pamit untuk pulang

Kesimpulan yang saya dapat dari cerita malam terakhir itu, ternyata bahagia itu sederhana. Bahagia gak harus melulu soal Rupiah”

Sekian dan sampai berjumpa ditulisan saya selanjutnya...

****

Pesona Puncak Mandeh : Raja Ampat nya Sumatera Barat



Wisata Sumatera Barat - Provinsi Sumatera Barat banyak sekali menyimpan Kekayaan Destinasi Wisata yang begitu sangat indah. Salah satunya Destinasi yang saya kunjungi pada 19 Juni 2018 yang lalu adalah Puncak Mandeh


Puncak Mandeh atau yang sering disebut dengan Raja Ampat-nya Sumatera Barat terletak di Koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan yang diresmikan pada 16 Mei 2015 oleh Presiden Jokowi Widodo.

Jarak dari Kota Padang menuju Puncak Mandeh yaitu 63 km atau menghabiskan waktu sekitar 2 jam (jika lalu lintas normal). Biasanya ketika waktu libur sering terjadi kemacetan di Teluk Bayur

Awalnya, saya mengetahui Puncak Mandeh ini dari salah satu stasiun Televisi yaitu My Trip My Adventure, dimana pada saat itu lokasi syutingnya di Puncak Mandeh. Seketika saya jadi pengen untuk melihat keindahan dari Puncak Mandeh secara langsung. Apalagi saat di saat itu disebelah saya ada mama saya yang juga ikutan nonton

“Bi, kalau kita pulang kampung ke Padang, nanti kita mampir ke Puncak Mandeh yuk, kan deket dengan kampung papa” ujar mama
“Boleh juga tuh ma” balas saya

Selang waktu 6 bulan kemudian. Papa ngajak kami sekeluarga mudik ke Padang secara dadakan. Antara kaget dan senang semua tercampur aduk😂

Singkat cerita H+5 Lebaran. Setelah pulang dari Kampung papa. Kami berangkat menuju ke Puncak Mandeh. Selama perjalanan yang namanya macet itu pasti.

Sesampainya di pintu masuk Puncak Mandeh, kami dikenakan biaya masuk sekitar Rp.5000/orang. Di dalam mobil kami ada 5 orang tapi yang dihitung cuman 4 orang. Alangkah baiknya uda penjaga pintu masuk itu. Padahal plat kendaraan kami plat Lampung😂

Dari Pintu masuk menuju Puncak Mandeh menghabiskan waktu sekitar 10-15 menit. Jalannya beraspal bagus dan sekitar 10% jalannya masih dalam perbaikan.

10 menit kemudian kami tiba di Puncak Mandeh. Dan pada saat itu saya merasa kagum dengan keindahan Puncak Mandeh yang mirip seperti Raja Ampat.

Tanpa berpikir panjang, saya langsung mengeluarkan kamera untuk mendokumentasikan keindahan dari Puncak Mandeh bersama keluarga saya.



Namun saya sedikit sedih karena kurangnya kesadaran pengunjung untuk membuang sampah pada tempatnya, terlihat di beberapa titik kawasan puncak mandeh ada sampah. Sebenarnya sampah itu adalah tanggung jawab kita bersama. Apa salahnya bungkusan sampah kita dibuang ke tempat sampah. Toh gak ada ruginya juga. Buang sampah di tong sampah akan menambah keindahan yang tersendiri dari Puncak Mandeh

Setelah 60 menit kemudian menikmati keindahan Puncak Mandeh sambil berfoto-foto kami meninggalkan Puncak Mandeh dan bergegas menuju kampung mama di Padang

**

Sekian tulisan saya tentang Puncak Mandeh. Semoga bisa menjadi referensi untuk kalian yang ingin berlibur ke Sumatera Barat. Dan ingat jika ingin piknik buanglah sampah ke tempat sampah. Okee🙌

*****