Explore Mercusuar Pulau Lengkuas di Negeri Laskar Pelangi



Sebelumnya, tak pernah terpikirkan dalam benak saya untuk Explore Negeri Laskar Pelangi. Dulu saya hanya bisa melihat dari keindahan Pulau Belitung dari Film Laskar Pelangi dan A Man Called Ahok yang saya tonton beberapa minggu yang lalu di bioskop, sambil bertanya di dalam hati. Kapan ya, saya bisa kesana? Namun Alhamdulillah tak lama kemudian, saya diberi kesempatan untuk Explore Negeri Laskar Pelangi itu

**

Bang Fery : Bi besok standy by jam 8 terus sarapan dulu di hotel jam 7. Kasih tau Irwan
Saya : Siap Bang

Seperti itulah pesan WhatsApp malam itu dari Bang Feri setelah saya dan rombongan genpi selesai liputan Malam Puncak Festival Tanjung Kelayang di Pantai Tanjung Kelayang, Kepulauan Belitung. Bang Feri merupakan PIC kami di Festival Tanjung Kelayang atau bisa dikatakan sebagai penanggung jawab dari liputan kami.

Malam itu saya benar-benar terasa lelah setelah liputan, dan sesampainya di penginapan, kami pun beristirahat sejenak untuk persiapan di hari esok.

krrriinnggg... krrrriinngggg....

Alarm hp saya pun berbunyi, pertanda jam menunjukkan pukul 06.00 WIB. Saya pun bergegas bangun untuk mandi dan tak lupa untuk membangunkan Irwan yang satu kamar dengan saya. Pukul 07.00 WIB kami sarapan di lantai dasar penginapan  sambil menunggu Bang Fery masih di dalam kamar. Pagi itu saya sarapan dengan Nasi Goreng.

Beberapa menit kemudian Bang Fery pun datang

“Jadi hari ini jadwal kita bebas, dan hari ini kita bakal explore destinasi yang di Pulau Belitung” ujar Bang Fery

“Siap bang” balas kami

Singkat cerita, pukul 10.00 WIB kami berangkat dari penginapan menuju Destinasi Pantai di Belitung. Pada saat itu cuaca di penginapan kami  hujannya cukup deras, jika hujan tak kunjung berhenti, kami memilih opsi yang selanjutnya yaitu mengunjungi Rumah Ahok dan Sekolah Laskar Pelangi.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 50 menit kamipun tiba di Pantai Tanjung Kelayang, dan cuaca pada saat itu sangat cerah.
Alhamdulillah...

Sesampainya di Pantai Tanjung Kelayang kamipun bergegas untuk mempersiapkan diri untuk explore pulau-pulau yang ada di Negeri Laskar Pelangi itu, diantaranya yaitu Pulau Lengkuas, Pulau Kepayang, Pulau Burung, Pulau Pasir, Pulau Belayar, serta Pulau Gerude

Setengah jam kemudian, kami pun masuk ke dalam kapal yang berisi 7 orang yaitu saya, Irwan, Mbak Elza, 2 dari Kemenpar, serta 2 warga lokal Belitung yang akan menjadi model untuk hunting kami di pulau-pulau Belitung. Bang Feri selaku PIC kami tidak ikut bersama kami, karena beliau sedang mempersiapkan tugasnya untuk event selanjutnya.

Destinasi pertama yang kami kunjungi yaitu Pulau Lengkuas. Lokasi Pulau Lengkuas terletak di Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung, Provinsi Bangka Belitung, atau di sebelah Utara Pantai Tanjung Kelayang. Untuk menyebrang menuju Pulau Lengkuas dari Pantai Tanjung Kelayang membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Selama di perjalanan saya melihat banyak batu-batu granit besar yang merupakan ciri khas dari Belitung. Air lautnya pun terlihat bersih dan biru. Pada saat itu cuacanya benar-benar sangat bersahabat.

Menara Mercusuar di Pulau Lengkuas

 Sesampainya di Pulau Lengkuas, kami pun disambut oleh pasir putih dan menara mercusuar yang merupakan icon dari Negeri Laskar Pelangi dengan memiliki ketinggian sekitar 50-60 meter. Dari informasi yang saya dapat, dulunya pengujung boleh memasuki Menara Mercusuar ini, namun semenjak ada pungli (pungutan liar) biaya masuk Menara Mercusuar, Menara Mercusuar tidak boleh dimasuki oleh pengunjung lagi.

Di Pulau Lengkuas juga terdapat Kolam Bidadari. Kolam Bidadari merupakan kolam alami yang terbentuk dari batu-batu yang saling menyatu. Disini pengunjung biar bermandi-mandi ataupun mengabadikan keindahannya melalui bidikan lensa.

Kolam Bidadari di Pulau Lengkuas

Dengan memiliki pesona pantai yang begitu sangat indah, Pulau Lengkuas tidak hanya dikunjungi oleh wisatawan domestik saja, namun juga dikunjungi oleh wisatawan dari mancanegara, yang saya lihat pada saat itu yaitu wisatawan dari Asia

Turis dari Asia

Selain itu, Pulau Lengkuas didukung dengan Fasilitas yang memadai, diantaranya yaitu kamar mandi yang bersih dan penginapan dengan harga yang terjangkau.

Tak terasa 1 jam pun sudah berlalu saya dan rombongan berada di Pulau Lengkuas untuk berfoto-foto dan menikmati keindahan Pulau yang memiliki menara mercusuar ini. Tak lupa juga saya ikut berfoto dengan inframe menara mercusuar yang difoto oleh mbak elza. Kapan lagi kan saya bisa berfoto di Negeri Laskar Pelangi ini :D


Setelah selesai berfoto-foto di Pulau Lengkuas, kamipun kembali ke kapal untuk explore ke Pulau selanjutnya, namun sebelumnya, saya, mbak elzha, dan Irwan mencoba untuk snorkling yang lokasinya tidak jauh dari Pulau Lengkuas. Jujur ini adalah pengalaman pertama saya snorkling dalam hidup saya, padahal di Lampung atau tepatnya di Pulau Pahawang ada tempat snorkling yang lokasinya tidak jauh dari rumah saya. Namun saya tidak akan melewatkan kesempatan ini

Sesampainya di spot snorkling yang sudah ditentukan oleh guide kami, kami bertiga pun bergegas menggunakan peralatan snorkling lalu turun dari kapal. Awalnya saya agak gugup karena ini merupakan pengalaman pertama saya snorkling dan saya belum seimbang untuk mengatur nafas. Namun beberapa  menit kemudian, saya bisa mengatur nafas saya ketika snorkeling. Dan ternyata keindahan dari dasar laut di perairan Belitung Subbahanallah indah banget guys. Kelestariannya terjaga dan banyak terdapat ikan-ikan yang berwarna-warni. Pada saat itu, saya pun menikmati menit demi menit selama snorkeling di perairan Belitung kala itu. Dan tak terasa satu jam pun berlalu, kami bertiga yaitu saya, mbak elzha dan irwan naik ke atas kapal untuk explore ke Pulau selanjutnya.

Di Pulau selanjutnya, saya memilih untuk tidak turun dan duduk dikapal karena pada saat itu, saya merasakan lelah setelah explore Pulau Lengkuas dan snorkeling tadi. Pada saat itu saya mencoba berbincang-bincang kepada guide kami sambil menikmati keindahan Pulau Belitung. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari Guide kami, untuk biaya paket wisata ke Pulau Lengkuas Belitung dan 4 Pulau lainnya ternyata membutuhkan biaya sebesar Rp.500.000/kapal. Dengan biaya 500rb, kita bisa explore 5 Pulau yang ada di Belitung, diantaranya yaitu Pulau Lengkuas, Pulau Kepayang, Pulau Burung, Pulau Pasir, Pulau Belayar, serta Pulau Gerude.

Tak terasa, pada saat itu menunjukkan jam 15.00 WIB. Dan kami pun segera bergegas untuk menuju ke Pantai Tanjung Kelayang untuk kembali ke penginapan, namun sebelum ke penginapan, kami makan terlebih dahulu di warung makan khas Jogjya yaitu Waroeng Bumbu Desa yang lokasinya tidak jauh dari penginapan kami

Mari Makan

Berikut adalah Foto yang saya ambil selama di Pulau Lengkuas dan sekitarnya









Segelas Kopi di Warkop Kong Djie Yang Legendaris


Setelah menyaksikan hiburan rakyat di Festival Tanjung Kelayang (18/11/2018) sekitar pukul 22.30 WIB. Salah satu rombongan kami (Genpi) yaitu mbak Nisa mengajak kami untuk ngopi-ngopi santai di salah satu kedai kopi yang sangat terkenal dan Legend banget di Pulau Belitung yaitu Warkop Kong Djie

Mungkin buat teman-teman yang tinggal di sekitaran Belitung pasti sudah tidak asing lagi dengan Warung Kopi yang satu ini. Yaa.. Warkop Kong Djie ini terletak di Jalan Siburik, Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung.

Ngopi Geh

Warung Kopi Kong Djie ini merupakan Warkop tertua di Kabupaten Belitung yang didirikan sejak tahun 1943 oleh Ho Kong Djie, beliau adalah lelaki berdarah Tiongha yang merupakan penduduk asli Pulau Belitung.

Memiliki empat ruangan kecil yang masing-masing berukuran sekitar 3x4 meter, Warung Kopi Kong Djie ini setiap harinya selalu ramai dikunjungi oleh pelanggannya utk sekedar ngopi-ngopi atau ngumpul bersama teman dan orang tersayang.



Untuk harga di Warkop Kong Djie ini menurut saya cukup murah. Seperti contohnya Kopi O yang merupakan Kopi best seller disini. Untuk ukuran kecil harganya Rp.8.000 dan yang besar Rp.10.000

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari Bapak Ismen Holidi selaku pemilik Warkop Kong Djie, saat ini Warkop Kong Djie memiliki 84 cabang di Indonesia. 4 diantaranya dikelola oleh keluarga turun temurun dan 80 dikelola dengan sistem franchise (waralaba).


Bapak Ismen Holidi

Untuk harga franchise kopi Kong Djie ini yaitu Rp.50.000.000 untuk 3 tahun. Dan dalam sehari Warkop Kong Djie di Jalan Siburik ini dalam sehari mereka mendapatkan omset Rp.10.000.000/hari

Selain kopi, di Warkop Kong Djie juga memiliki menu makanan ringan seperti Mie Instan, Roti Panggang, Pisang Keju dan lainnya. Yang pastinya dengan harga yang terjangkau di kantong.

Oiya Warung Kopi Kong Djie ini buka setiap hari dari pukul 06.00 sampai 00.00 WIB.

Tak terasa, waktupun menunjukkan pukul 00.30 WIB dan rombongan kami pun bergegas kembali ke penginapan untuk beristirahat.

Berfoto Ala-Ala Jepang di Bukit Sakura Lampung



Lampung merupakan sebuah Provinsi yang terletak di ujung Pulau Sumatera atau bisa dikatakan Gerbangnya Pulau Sumatera untuk menuju ke Pulau Jawa. Di ujung Pulau Sumatra ini banyak sekali menyimpan Destinasi-destinasi wisata yang begitu sangat indah, dari daratan, penggunungan, serta lautan. Semuanya ada di Lampung.

Nah Jika kalian sedang berada di Kota Bandar Lampung nih guys, ada baiknya kalian mengunjungi Destinasi Wisata yang satu ini yaitu Bukit Sakura. Akhir-akhir ini Bukit Sakura ramai diperbincangkan oleh Netizen terutama Netizen di Instagram karena bentuknya seperti ala-ala di Jepang. Bisa dikatakan Lampung Rasa di Jepang, karena disetiap sudut di Bukit Sakura terdapat bunga yang berbentuk Bunga Sakura.

Alamat Bukit Sakura

Bukit Sakura terletak di Jalan Batukalam, Kecamatan Langkapura, Kota Bandar Lampung. Untuk Rute menuju Bukit Sakura, Jika kalian dari Pasar Bambu Kuning itu melewati Jalan Imam Bonjol arah menuju Kemiling, setelah melewati Universitas Saburai lalu ada pertigaan dan tidak jauh dari pertigaan Universitas Saburai terdapat Rumah Sakit Ibu dan Anak SINTA.

Dan diseberang Rumah Sakit Ibu dan Anak SINTA adalah jalan Batukalam yang disebelahnya Bakso Solo, masuk kedalam kira-kira sekitar 1 km dari Jalan Imam Bonjol, Nah disitu tempatnya Bukit Sakura Lampung atau jika kalian bingung, kalian juga bisa searching di Google Map dengan kata kunci Bukit Sakura.

Harga Tiket Masuk Bukit Sakura Lampung

Ketika saya memasuki Bukit Sakura pada 21 Oktober 2018, untuk Harga Tiket Masuk Bukit Lampung itu dikenakan biaya Rp.10.000/orang. Dan ditambah dengan uang parkir motor Rp.2.000 dan untuk mobil Rp.5.000.

Menurut saya, Harga Tiket Masuk Bukit Sakura Lampung diatas termasuk worth it karena sesuai dengan fasilitas yang didapat untuk berlibur bersama orang tersayang ke Bukit Sakura

Fasilitas di Bukit Sakura Lampung

Dengan mengeluarkan biaya tiket masuk ke Bukit Sakura sekitar Rp.10.000/orang. Disana kalian bisa menikmati beberapa Fasilitas yang sudah disediakan oleh petugas Bukit Sakura yaitu Gazebo, Ayunan Bambu, Kantin, Mushola, Toilet, dan pastinya Spot-spot foto yang ala-ala di Jepang seperti yang sudah saya sampaikan diatas.

Pastikan ketika kalian ke Bukit Sakura sudah menyiapkan kamera, entah itu kamera hp, kamera dslr, kamera mirroles ataupun sejenisnya untuk mengabadikan momen terindah kalian di Bukit Sakura Lampung.

Oiya, di Bukit Sakura Lampung, kalian juga bisa menikmati indahnya Kota Bandar Lampung dari ketinggian. Kalau bagusnya sih menurut saya, itu pada malam hari, sekitar setelah selesai sholat Magrib. Karena pada malam hari, kalian bisa menikmati kelap kelip Kota Bandar Lampung. Sambil duduk di Gazebo yang sudah disediakan bersama orang yang kita sayangi. Pastinya indah banget ya guys.

**

Berikut adalah foto-foto yang saya ambil pada 21 Oktober 2018 yang lalu di Bukit Sakura dengan Inframe adik kandung saya







Kuliner Lampung : Menikmati Sepiring Sate Madura Bu Bibah


Malam itu sekitar pukul 23.00 WIB tiba-tiba perut saya terasa lapar. Saya pun bergegas keluar rumah dengan mengendarai motor matic kesayangan saya untuk mencari kuliner malam di Bandar Lampung City, Lampung. Seketika saya jadi kepikiran dengan sate ayam yang terakhir saya coba sebulan lalu. Lokasinya tidak jauh dari rumah saya, ya sekitar 3-5 menit jaraknya dari rumah saya.

Sate itu adalah Sate Madura dari Bu Bibah yang terletak di Jalan Imam Bonjol (seberang SDN 1 Langkapura), Langkapura, Bandar Lampung. Sate Pinggir jalan yang rasanya tak kalah dengan sate ternama yang lainnya. Entah kenapa saya lebih menyukai makanan di pinggir jalan daripada di cafe ataupun restoran. Bukan soal uang, tapi soal rasa. Mungkin Sate Bu Bibah ini kuliner lampung 2018 yang tak terkenal dengan kuliner yang lainnya, sebut saja seperti sate cak umar, Mie Khodon, bakso sony, els coffe ataupun yang lainnya.

Bu Bibah

Sesampainya saya di Sate Madura  Bu Bibah, saya pun memesan pesanan saya seperti biasa yaitu sate ayam dengan lontong. Untuk harganya cukup terjangkau yaitu hanya Rp.20.000/porsi (sudah termasuk lontong/nasi), jika tidak menggunakan lontong/nasi harganya Rp.15.000/porsi dengan 10 tusuk sate. Selain Sate Ayam juga ada Sate Kambing yang harganya Rp.23.000/porsi (sudah termasuk lontong/nasi) dan jika hanya sate kambingnya saja artinya tidak pakai lontong ataupun nasi harganya Rp.18.000/porsi dengan 10 tusuk sate kambing.

Taraaaa... Sate Madura Bu Bibah

Untuk rasanya, Sate bu Bibah ini sama dengan Sate Madura yang lainnya, namun yang saya suka dari Sate Ayam Bu Bibah ini tekstur dari daging sate ayamnya itu lembut dan bumbu kacangnya yang medok. Selain itu Bu Bibah ini orangnya ramah kepada setiap pembelinya. Kalau diajak ngobrol ibunya welcome.

Bagi saya, seenak apapun masakan dari seorang pedagang kalau orangnya tidak ramah dengan pembelinya otomatis saya cukup sekali saja belanja di tempat makan itu. Sedikit flashback ke belakang. Saya dulu pernah membeli Mie Goreng yang lokasinya di Kedaton, Bandar Lampung. Pada saat itu makanan saya lama banget datangnya hampir sejaman, padahal disebelah saya yang datangnya baru datang dan sudah dikasih duluan. Ketika saya bertanya ke pedagangnya, kapan pesanan saya tiba, dia balasnya dengan jutek. Walaupun masakannya saya akui enak, tapi saya cukup sekali makan disana karena keramahannya kurang terhadap pembelinya.

*Oke kembali ke Sate Bu Bibah*

Ketika Bu Bibah sedang membuat pesanan saya, saya pun mencoba ngobrol-ngobrol sedikit dengan Bu Bibah. Ternyata Bu Bibah ini perantauan dari Madura yang berusia 62 tahun dan Bu Bibah sudah berjualan sate di Bandar Lampung selama 18 tahun. Bu Bibah berjualan Sate Madura ini ditemani juga oleh Suaminya yang saya lupa menanyakan nama suaminya. Jujur, saya merasa salut dengan Bu Bibah, karena di Usia tuanya, Bu Bibah tetap bersemangat untuk berjualan sate madura dari jam 2 siang sampai jam 1 malam demi rezeki yang halal. Belum lagi untuk mempersiapkan kebutuhan sebelum dagang seperti belanja dipasar, masak bumbu kacang dan nusuk daging sate.

Bu Bibah pun bercerita kepada saya bahwa dagangannya akhir-akhir ini mulai sepi. Namun saya hanya bisa bilang ke Bu Bibah

“Sabar bu.. Rezeki ga bakalan kemana-mana bu” ujar saya

Beberapa menit kemudian, tak terasa sate sepiring di depan sate saya sudah habis. Yang tersisa hanyalah lidi tusukan sate. Saya akui sate Bu Bibah ini beneran enak dan buat kalian yang baca tulisan ini dan lagi di Bandar Lampung. WAJIB banget untuk nyobain Sate Madura dari Bu Bibah

**

Mungkin sekian dulu tulisan saya kali ini tentang “Kuliner Lampung : Menikmati Sepiring Sate Madura Bu Bibah” dan sampai jumpa di tulisan saya selanjutnyaa... *peluk online*

****

Tag : Kuliner Lampung Yang Terkenal
         Kuliner Lampung 2018
         Kuliner Lampung Murah
         Kuliner Lampung Instagram




Berlibur ke Kebun Raya Liwa : Kebun Raya Pertama di Sumatera



Lampung Barat adalah salah satu Buckedlist yang ingin saya kunjungi. Dan pada 3 Agustus 2018 yang lalu, saya bersama 6 orang teman satu kuliah saya berangkat dari Bandar Lampung menuju Lampung Barat menggunakan sepeda motor. Kami berangkat pukul 5 subuh dan tiba di Liwa sekitar pukul 2 siang.

Singkat cerita sesampainya di rumah teman saya yang bernama Awal, dia adalah teman satu jurusan saya di Teknik Sipil, kami beristirahat sejenak dan sore hari nya kami mengunjungi destinasi di Liwa hari pertama yaitu Wisata Kebun Raya Liwa

Peresmian Kebun Raya Liwa
Kebun Raya Liwa ini diresmikan pada 5 Desember 2017. KRL ini merupakan Kebun Raya Pertama di Pulau Sumatera.

Lokasi Kebun Raya Liwa
Alamat Kebun Raya Liwa yaitu di Pekon Way Mengaku, Kecamatan Balik Bukit, Kota Liwa, Kabupaten Lampung Barat. Letaknya sangat strategis yaitu dalam areal rumah Dinas Bupati Lampung Barat dan tidak jauh dari pusat Kota Liwa, sekitar 3-4 menit. Atau kalian juga bisa search lokasinya di Google Map dengan kata kunci “Kebun Raya Liwa”

Kebun Raya Liwa ini memiliki pemandangan alam yang begitu sangat indah. Terletak di Kawasan Pegunungan Bukit Barisan dengan ketinggian mencapai 949 Mdpl. Suasana di Kebun Raya Liwa ini benar-benar nyaman dan indah, selain itu udaranya juga sejuk.

Di Kebun Raya Liwa memiliki konsep taman tematik, berakanekaragam tanaman yang terdapat di KRL ini seperti tanaman buah, tanaman hias, tanaman obat-obatan dan yang lainnya. Kontur tanah yang berundak-rundak dan dikelilingi bukit barisan, membuat para pengunjung termasuk saya sendiri betah berada disini :D

Biasanya, Kebun Raya Liwa ini ramai dikunjungi oleh pengunjung pada sore hari dan waktu libur atau akhir pekan.

Selain memiliki banyak jenis tanaman dan panorama alam yang indah. Di Kebun Raya Liwa juga memiliki banyak fasilitas diantaranya Spot foto yang Instagramble, ini cocok bangett untuk kalian yang suka foto-foto untuk di upload di Media Sosial, Area Parkir, Mushola, Toilet, Kantin, dan Gazebo

Harga Tiket Masuk Kebun Raya Liwa
Untuk memasuki Kebun Raya Liwa ini sama sekali tidak dipungut biaya alias GRATIS. Hanya saja membayar uang parkir kendaraan Rp.3.000 untuk motor dan Rp.5.000 untuk mobil yang dijaga oleh penduduk sekitar KRL. Walaupun GRATIS, selalu jaga fasilitas di Kebun Raya Liwa ya guys, jangan sampai merusak dan jangan buang sampah sembarangan.

Berikut adalah Gambar Kebun Raya Liwa


Selfie di KRL

Ngopi di KRL

Petunjuk Arah

Spot Foto

Taman Buah

Gazebo

Spot Foto Warna-Warni

Toilet

Mushola



Taman Hias


Parkir Motor




Nagari Pariangan : Desa Terindah di Dunia Ada di Sumatera Barat



Wisata Sumatera Barat - Banyak orang yang belum tahu termasuk dulu saya sendiri bahwa di Sumatera Barat yang merupakan tanah kelahiran saya, ada sebuah desa terindah dunia. Awal yang mengetahuinya dari salah satu acara stasiun Televisi. Pada saat itu mama berada di sebelah saya dan sekilas saya melihat tayangannya, terlihat desa itu sangat indah, banyak persawahan dan bangunan tua.

“kalau kita mudik Padang nanti kita mampir kesana ya” ujar mama saya secara spontan
“iya ya ma, obi baru tau ternyata di Sumbar ada desa yang keindahannya sudah diakui oleh dunia” balas saya

Karena masih belum percaya, saya mencoba untuk searching di Google tentang Desa Terindah itu. Setelah saya searching, ternyata benar, desa itu bernama Nagari Pariangan yang terletak di Lereng Gunung Marapi, Tanah Datar, Sumatera Barat. Seketika saya jadi pengen untuk menyaksikan secara langsung keindahan dari Nagari Pariangan itu secara langsung.



FYI, belum banyak orang yang tahu tentang Nagari Pariangan ini, namun para turis sudah mulai menyadarinya keberadaan Desa Terindah itu terbukti dari meningkatnya kunjungan wisman terlebih saat event internasional tahunan di Sumatera Barat yaitu Tour De Singkarak.

Negeri Pariangan itu termasuk dalam daftar 5 desa terindah di dunia versi Budget Travel disandingkan dengan 4 desa lainnya yaitu Desa Wengen di Swiss, Desa Eza di Prancis, Desa Niagara on the Lake di Kanada dan yang terakhir Desa Cesky Krumlov di Ceko.

Beberapa bulan kemudian, tepatnya H-3 lebaran. Papa mengajak kami sekeluarga mudik ke Padang secara dadakan. Sontak kami kaget dengan ajakan papa secara dadakan, padahal mudik lebaran tahun 2018 tidak pernah direncanakan sama sekali.

Singkat cerita, kami sampai di Padang pada malam takbiran dan H+5 lebaran kami sekeluarga pergi ke Tanah Datar untuk menyaksikan Keindahan Desa Nagari Pariangan yang diakui oleh dunia sebagai Desa Terindah di Dunia secara langsung.

Yeeeaaayyyyy!!!

Menuju Desa Nagari Pariangan

Kami berangkat dari Kota Padang dari pukul 10.00 WIB dan tiba di Desa Nagari Pariangan sekitar pukul 15.00 WIB atau jaraknya sekitar 93 km. Yaa perjalanannya cukup lama karena di pertengahan jalan yaitu tepat di Padang Lua sampai Bukittinggi terjadi kemacetan yang cukup panjang. Kemacetan di lokasi ini sering terjadi apalagi memasuki waktu libur dan lebaran.

Untuk akses jalannya, karena ini adalah perjalanan pertama kami ke Nagari Pariangan, kami menggunakan Google Maps dengan kata kunci “Desa Terindah Pariangan” dan Alhamdulillah kami sampai ke tujuan yang kami tuju. Selama di perjalanan saya melihat berbagai pemandangan yang begitu yang sangat indah, dari Air Terjun Lembah Anai, persawahan dan perkebunan teh dan rumah-rumah gonjong limo khas dari Sumatera Barat.

Pemandangan Gunung Singgalang selama di perjalanan

**

Sesampainya di pintu masuk Desa Nagari Paringan, kami dikenakan biaya masuk sekitar Rp.10.000/mobil. Dan ketika memasuki Desa Nagari Pariangan, hawa-hawa dingin dari lereng Gunung Marapi itu mulai terasa dan rumah-rumah penduduk Desa Nagari Paringan yang mayoritas rumah gadang yang sudah berusia ratusan tahun mulai terlihat.


FYI lagi nih, Desa Nagari Pariangan merupakan Desa yang tertua di Sumatera Barat. Kearipan lokal penduduk Nagari Pariangan tetap terjaga dari zaman dulu sampai sekarang. Karena Kearipan lokal mereka gunakan sebagai modal untuk mengembangkan desa mereka yang penuh dengan sejarah.

Pada saat itu, saya tak lupa saya untuk mendokumentasikan pengalaman pertama saya selama di Desa Tertua dan Terindah di dunia itu dengan berfoto selfie, tapi sebelum berfoto selfie saya meminta izin dulu ke pemiliki rumah dan saya pun diizinkan untuk berfoto di depan rumahnya.


Penduduk sekitar Nagari Pariangan sangat ramah dengan pengunjung yang datang ke Desa mereka. Namun kita sebagai pengunjung harus bisa menjaga sopan dan santun selama di Desa Nagari Pariangan, karena adat istiadat Desa Nagari Pariangan sangat terjaga.

Setelah berfoto kami mengarahkan mobil kami ke puncak Desa Nagari Pariangan, dan disitu Rest Area lalu kami  beristirahat disana dan sambil berfoto-foto disana.

Rest Area

Subbahanallah...

Pemandangannya begitu benar-benar indah sama seperti apa yang saya lihat di Televisi dan Internet. Di Rest Area itu tidak hanya kami saja disana, banyak pengunjung saya berasal dari luar daerah, lebih dominan plat kendaraan di Pulau Jawa.







Tak terasa beberapa jam kemudian, langit mulai gelap dan kamipun segera bergegas untuk pulang ke Padang. Jujur sebenarnya saya belum puas untuk explore Nagari Pariangan ini, karena ada 2 tempat yang belum saya kunjungi yaitu pemandian air panas dan Masjid Ishlah yang merupakan Masjid tertua di ranah Minang. Namun karena keterbatasan waktu karena saya nyampe disana jam 15.00 WIB mau ga mau saya harus pulang. Karena besoknya perjalanan untuk balik ke Lampung. Mungkin suatu saat saya bakal kesini lagi.

Oiya, Buat kalian yang ingin berlama-lama menikmati keindahan di Nagari Pariangan juga disediakan Home Stay dengan tarif sekitar 500rb/rombongan.

**

Oke sekian cerita dari pengalaman pertama saya selama di Desa Terindah di Dunia yaitu Nagari Pariangan. Semoga bisa menjadi referensi untuk teman-teman semua. Vlog perjalanan saya selama di Nagari Pariangan segera menyusul di Channel youtube saya ^_^

****