Explore Wisata Tanjung Harapan di Kawasan Batu Tegi, Tanggamus


 

Lampung..
Bagi saya Lampung adalah rumah kedua bagi saya, karena provinsi yang terletak di ujung Pulau Sumatera itu banyak sekali menyimpan destinasi wisata yang indah, dari daratan, lautan hingga pegunungan semua ada di Lampung.


Pagi itu  (18/01/2019), sekitar pukul 08.30 WIB saya bersama Om Yopie, Om Dito, Masteguh dan Tante Rahma, kami berangkat dari Bandar Lampung menuju Tanggamus untuk mengunjungi salah satu destinasi baru disana, kalau bahasa jaman now nya “Piknik Tipis” lah… hehe

Destinasi yang kami kunjungi yaitu Wisata Tanjung Harapan yang terletak di kawasan Bendungan Tegi Tanggamus. Destinasi tsb beberapa hari yang lalu baru diresmikan oleh Kepala Dinas Kehutan Provinsi Lampung mewakili Gubernur Lampung.


Singkat cerita, untuk menuju Wisata Tanjung Harapan kami melalui Desa Talang 20, Kecamatan Air Naningan. Namun juga bisa langsung melalui Dermaga Bendungan Batu Tegi. Sekitar pukul 11.00 WIB kami tiba di Desa Talang 20 dan disambut oleh pokdarwis setempat. Sesampainya disana, kami beristirahat sejenak sambil ngopi dengan Kopi Tanggamus. Jujur, saya tidak termasuk orang yang suka kopi hitam, namun pada saat itu karena kopi nya sudah dihidangkan oleh tuan rumah, dan ketika saya minum kopi nya terasa nikmat, ya kopi tsb merupakan kopi yang langsung diolah oleh warga setempat dari biji kopi menjadi bubuk kopi hitam.

Sungguh nikmat kopi hitam siang itu..

Mereka juga memberikan kami cemilan tradisional yaitu asinan buah lempau yang berasal dari buah lempau. Mereka yang membuat sendiri dan di asinan buah lempau itu banyak sekali manfaatnya untuk kesehatan. Rasa dari asinan buah lempau itu itu asin dan juga gurih. Ini pertama kalinya saya makan buah lempau.

Asinan Buah Lempau

Beberapa menit kemudian, mereka sudah mempersiapkan untuk menuju ke Wisata Tanjung Harapan, dan kami pun bergegas untuk menuju dermaga yang lokasinya cukup jauh, ya menghabiskan waktu sekitar 5-8 menit untuk trecking. Disepanjang jalan, ternyata banyak juga spot-spot yang dijadikan sebagai tempat foto dan saya tak lupa untuk mengabadikan moment tsb.



Sesampainya di dermaga, kami langsung naik ke atas perahu dan saya kebagian duduk di depan. Untuk menyebrang dari dermaga Desa Talang 20 menuju Wisata Tanjung Harapan membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Pada saat itu cuaca terlihat mendung, dan ditengah perjalanan kami terjebak hujan, namun kami tetap melanjutkan perjalanan walaupun pakaian saya basah terkena air hujan.

Satu jam kemudian, kamipun tiba di dermaga Wisata Tanjung Harapan dengan disambut suara jangkring dan suara siamang yang khas, dan dari dermaga kami melanjutkan tracking keatas, ya saya sebagai orang yang jarang jalan kaki cukup lelah untuk nanjak keatas, pada saat itu cuacanya gerimis gerimis manja.. hehehe

Sesampainya diatas, saya langsung rebahan di sebuah pondok, cukup melelahkan bagi saya yang jarang olahraga.. hahaha

Dan ketika saya terbangun dari rebahan lalu saya lihat pemandangan disekitaran saya, subbahanallah saya cukup takjub dengan keindahan Bendungan Batu Tegi dari atas, Bendungan yang dinobatkan sebagai Bendungan terbesar se Asia Tenggara ditambah dengan cuacanya yang adem dan tidak banyak orang, sebab Wisata Tanjung Harapan ini mulai dibuka untuk umum tanggal 20 Januari 2019.

Oiya, saya lupa nih. Untuk biaya penyebrangan dari Desa Talang 20 ataupun dari Dermaga Bendungan Batu Tegi itu dikenakan biaya Rp.150.000/kapal dengan kapasitas 6 orang, satu orangnya sekitar 25 rb an lah. Dan sesampainya di Wisata Tanjung Harapan, biaya masuknya Rp.10.000/orang

Ada apa saja sih di Tanjung Harapan?

Mungkin  kalian pada bertanya-tanya kan?
Huuhhh.. sabar saya ambil nafas dulu…

Jadi di Wisata Tanjung Harapan ini banyak sekali spot-spot yang bisa dijadikan untuk tempat berfoto-foto guys. Salah satunya foto dibawah ini yang saya ambil dengan Inframe Masteguh. Konsep spot foto yang satu ini menurut saya cukup unik dan baru kali ini saya lihat di Lampung, serta disekelilingnya ada tanaman buah-buahan. Asik banget kan?


Lalu ada juga yang menarik di Wisata Tanjung Harapan ini yaitu Flying Fox guys dengan panjang sekitar 250 meter, cukup panjang dan sangat menguji andrenalin, dan pada saat itu saya tidak bisa menaiki flying fox nya karena maksimal berat badannya 80 kg, sedangkan saya diatasnya.. huhuhu jadi sedih..


Selain itu buat kalian yang mau nginap atau nge camp di Tanjung Harapan juga disediakan tempat penginapan dengan biaya mulai dari Rp.25.000/orang. Kalau menurut saya, harga segitu terjangkau banget. Dan didukung dengan fasilitas yang cukup memadai seperti toilet, warung, dan mushola.


Dan di Wisata Tanjung Harapan ini juga ada terdapat beberapa rumah pohon, jadi kita bisa melihat lebih tinggi lagi keindahan dari Bendungan Batu Tegi.


Setelah 2 jam kami berada di Wisata Tanjung Harapan, kami pun segera bergegas turun menuju ke dermaga untuk pulang, dan pada saat turun dari Tanjung Harapan menuju dermana, jalannya cukup licin dari hujan, sehingga membuat saya tergelincir. Alhasil celana bagian saya kotor, wkwkwk…

Lalu kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Talang 20 untuk persiapan pulang ke Bandar Lampung dan sesampainya disana kami dihidangkan Nasi Putih, Indomie Rebus dengan cabe rawit, ikan goreng nila dan sambal terasi oleh salah satu penduduk setempat. Walaupun menu makanannya sederhana, namun terasa nikmat dan istimewa. Saya menikmati makanannya dengan lahap, mungkin ini efek karena saya belum makan nasi dari pagi dan ditambah lagi dengan tracking yang lumayan menguras tenaga. Hihihi

Tak terasa senja pun tiba, dan kami pun segera bergegas untuk pulang ke Bandar Lampung. Warga Desa Talang 20 sangat ramah dengan tamu yang hadir. Semoga suatu saat saya bisa kesana kembali.

Di perjalanan terlihat senja yang begitu sangat indah, lalu kami berhenti di tengah jalan dan mengabdikan moment senja di sore itu.

Senja Sore Itu..

Sekian cerita saya kali ini tentang Wisata Tanjung Harapan di Tanggamus. Sampai bertemu ditulisan saya selanjutnya

Backpacker Sendirian Ke Jogja? Why Not!


Mas kok sendirian aja mas? Pasangannya mana mas?
Banyak yang melontarkan pertanyaan tersebut yang ditujukan kepada saya ketika saya beristirahat selama di Jogja

Pada 27 Januari 2019 saya memutuskan untuk berangkat Ke Jogja sendirian dari Bandar Lampung. Kenapa saya berangkat sendirian? Yang pertama saya sudah mencoba menghubungi beberapa teman saya untuk berangkat ke Jogja, namun yang lain pada sibuk. Pasangannya? Jodoh saya lagi dijagain sama orang😂

Alasan kedua, kebetulan berangkat ke Jogja ini saya dapat Promo dari salah satu agent tiket online, sebut saja traveloka #SumpahIniBukanEndorse dan yang ketiga saya ingin mendapatkan pengalaman yang baru dalam hidup saya. Tentunya tidak mudah untuk backpackeran sendirian ke Jogja.

Sebelum berangkat ke Jogja saya mencoba untuk searching di internet destinasi mana saja yang akan saya kunjungi selama Jogja. Dan selama perjalanan dari Lampung ke Jogja banyak hal-hal yang terjadi di luar rencana saya sebelum berangkat.

Jadi rencana saya itu sebelum berangkat dari Lampung ke Jogja itu, pagi jam 9 pagi saya berangkat dari Terminal Rajabasa menuju Pelabuhan Bakauheni dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Sampai di Bakau jam 11 dan nyebrang 2 jam. Lalu sampai di Bakau jam 1 siang kemudian dilanjutkan perjalanan dengan bus Damri dari Merak ke Bandara Soekarno Hatta sekitar 3 jam, kira-kira saya sampai disana pukul 4 sore dan pesawat saya Boarding pukul 20.30. Jadi punya waktu sekitar 4.5 jam beristirahat di Bandara, lalu tiba di Jogja pukul 22.00 WIB.

Hal yang saya sebutkan barusan adalah sebuah rencana. Faktanya, saya tiba di Terminal Rajabasa pukul 9 pagi lalu dan busnya baru berangkat sekitar pukul 11, dan tiba di Bakauheni jam 2 siang. Bus nya ngetem kelamaan dan jalannya lambat. Lalu saya naik kapal dan kapalnya baru berangkat sekitar pukul setengah 3 an. Dan tiba di Merak pukul 17.10 WIB.

Nyampe Merak saya langsung lari ke Pol Damri, namun karena cukup jauh, saya naik ojek, sesampainya di Pol Damri ternyata Bus Damri menuju Bandara Soekarno Hatta sudah berangkat, lalu saya disarankan oleh petugas Damri untuk mengejar bus nya ke Dishub Cilegon. Singkat cerita saya kejar bus nya dengan menggunakan taxi dan alhamdulillah saya dapat bus nya sekitar pukul 17.30 WIB dengan bantuan petugas pol bus Damri di Merak, ya mereka membantu saya dengan menghubungi Supir Bus nya untuk menunggu saya di Dishub Cilegon. Terima kasih mas..

Singkat cerita saya tiba di Bandara Soekarno Hatta sekitar pukul 19.30 dan tiba di Jogja pukul 22.35 karena delay sekitar 20 menitan. It’s oke

Dan selama di Jogja saya mengunjungi beberapa destinasi yang saya sudah rencanakan sebelumnya, diantaranya yaitu Keraton, Kalibiru, Malioboro, Warung Kopi Klotok, Filosofi Kopi, Pantai Timang dan yang terakhir Bukit Paralayang. Tulisan tentang Destinasi yang saya kunjungi, akan saya tulis di tulisan selanjutnya. Jika tulisannya sudah selesai saya cantumkan link artikelnya dibawah ini

Jogja sebuah kota Istimewa, banyak pengalaman baru yang saya dapatkan selama di Jogja. Hal yang saya suka dari Jogja yaitu penduduk lokalnya yang ramah banget. Selain itu Jogja juga kaya dengan destinasi wisata alam, kuliner, hingga budaya.

Kalau ke Jogja, wajib untuk mampir ke Keraton. Karena di Keraton kita bisa mengetahui sejarah-sejarah Kesultanan Jogja dulu.

Selama di Jogja, saya menggunakan Guide dari Google Map dengan tujuan supaya tidak nyasar dan salah masuk jalan. Untuk transportasi saya sendiri selama di Jogja, saya menyewa Motor selama 4 hari di Andies Rental Motor dengan motor Beat. Biayany 60rb/hari

Kesimpulan yang saya dapatkan selama Backpacker Sendiri di Jogja yaitu manusia merencanakan dan Allah yang menentukan. Sebab apa yang saya rencanakan sebelum keberangkatan, semua berbeda ketika hari H. Sampai harus lari-larian dan mengejar Bus Damri. Jika saya tidak bisa mengejar Bus Damri jam 5 sore itu, otomatis saya Akan ketinggalan pesawat dan membeli tiket lagi. Dan sampai-sampai supir taxi yang membantu saya mengejar Bus Damri sampai bilang

“Kok mas bisa ketinggalan bus Damri?kalau kita berhasil menemukan Bus Damri nya berarti mas beruntung banget” dan alhamdulillah saya berhasil naik bus Damri nya

Dan yang paling penting nih. Backpacker an sendirian itu ternyata asikkkk loh, kita bebas pergi kemana saja yang kita mau, tanya ada unsur paksaan oleh siapapun. Selain itu juga dapat pengalaman baru. Walaupun ketika saya bertemu warga lokal mereka sampai bilang

“Kok sendirian saja mas? Pasangannya mana?”

“Jodoh saya lagi dijagain orang pak buk” jawab saya dengan lontaran candaan

Ya, terkadang jagain jodoh orang itu gak enak. Deket, lalu bikin nyaman dan setelah itu dia sama orang lain.
.
Lebih baik mencintai diri sendiri terlebih dahulu sebelum mencintai orang lain.
Salah satu cara untuk mencintai diri sendiri dengan cara melakukan hobby yang lo suka (dalam artian positif)

Tidak usah khawatir..

Dalam Islam Jodoh dan Rezeki semua sudah atur oleh Allah, namun jangan lupa untuk selalu berdoa dan berusaha

Berikut cost saya dari Lampung menuju Jogja

  1. Naik Bus Terminal Rajabasa - Pelabuhan Bakauheni = Rp.30.000
  2. Biaya Penyebrangan Bakauheni - Merak = Rp.15.000
  3. Bus Damri Merak - Bandara Soekarno Hatta = Rp.65.000
  4. Pesawat Jakarta - Jogja = Rp.303.000 (harga promo, harga normalnya 400rb - 700rb. Kalau mau via darat dari Merak ke Jogja mungkin sekitar 100-150rb)

Sekian tulisan blog saya kali ini tentang Backpacker Sendiri di Jogja. Sampai berjumpa di tulisan saya selanjutnya

Explore Mercusuar Pulau Lengkuas di Negeri Laskar Pelangi



Sebelumnya, tak pernah terpikirkan dalam benak saya untuk Explore Negeri Laskar Pelangi. Dulu saya hanya bisa melihat dari keindahan Pulau Belitung dari Film Laskar Pelangi dan A Man Called Ahok yang saya tonton beberapa minggu yang lalu di bioskop, sambil bertanya di dalam hati. Kapan ya, saya bisa kesana? Namun Alhamdulillah tak lama kemudian, saya diberi kesempatan untuk Explore Negeri Laskar Pelangi itu

**

Bang Fery : Bi besok standy by jam 8 terus sarapan dulu di hotel jam 7. Kasih tau Irwan
Saya : Siap Bang

Seperti itulah pesan WhatsApp malam itu dari Bang Feri setelah saya dan rombongan genpi selesai liputan Malam Puncak Festival Tanjung Kelayang di Pantai Tanjung Kelayang, Kepulauan Belitung. Bang Feri merupakan PIC kami di Festival Tanjung Kelayang atau bisa dikatakan sebagai penanggung jawab dari liputan kami.

Malam itu saya benar-benar terasa lelah setelah liputan, dan sesampainya di penginapan, kami pun beristirahat sejenak untuk persiapan di hari esok.

krrriinnggg... krrrriinngggg....

Alarm hp saya pun berbunyi, pertanda jam menunjukkan pukul 06.00 WIB. Saya pun bergegas bangun untuk mandi dan tak lupa untuk membangunkan Irwan yang satu kamar dengan saya. Pukul 07.00 WIB kami sarapan di lantai dasar penginapan  sambil menunggu Bang Fery masih di dalam kamar. Pagi itu saya sarapan dengan Nasi Goreng.

Beberapa menit kemudian Bang Fery pun datang

“Jadi hari ini jadwal kita bebas, dan hari ini kita bakal explore destinasi yang di Pulau Belitung” ujar Bang Fery

“Siap bang” balas kami

Singkat cerita, pukul 10.00 WIB kami berangkat dari penginapan menuju Destinasi Pantai di Belitung. Pada saat itu cuaca di penginapan kami  hujannya cukup deras, jika hujan tak kunjung berhenti, kami memilih opsi yang selanjutnya yaitu mengunjungi Rumah Ahok dan Sekolah Laskar Pelangi.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 50 menit kamipun tiba di Pantai Tanjung Kelayang, dan cuaca pada saat itu sangat cerah.
Alhamdulillah...

Sesampainya di Pantai Tanjung Kelayang kamipun bergegas untuk mempersiapkan diri untuk explore pulau-pulau yang ada di Negeri Laskar Pelangi itu, diantaranya yaitu Pulau Lengkuas, Pulau Kepayang, Pulau Burung, Pulau Pasir, Pulau Belayar, serta Pulau Gerude

Setengah jam kemudian, kami pun masuk ke dalam kapal yang berisi 7 orang yaitu saya, Irwan, Mbak Elza, 2 dari Kemenpar, serta 2 warga lokal Belitung yang akan menjadi model untuk hunting kami di pulau-pulau Belitung. Bang Feri selaku PIC kami tidak ikut bersama kami, karena beliau sedang mempersiapkan tugasnya untuk event selanjutnya.

Destinasi pertama yang kami kunjungi yaitu Pulau Lengkuas. Lokasi Pulau Lengkuas terletak di Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung, Provinsi Bangka Belitung, atau di sebelah Utara Pantai Tanjung Kelayang. Untuk menyebrang menuju Pulau Lengkuas dari Pantai Tanjung Kelayang membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Selama di perjalanan saya melihat banyak batu-batu granit besar yang merupakan ciri khas dari Belitung. Air lautnya pun terlihat bersih dan biru. Pada saat itu cuacanya benar-benar sangat bersahabat.

Menara Mercusuar di Pulau Lengkuas

 Sesampainya di Pulau Lengkuas, kami pun disambut oleh pasir putih dan menara mercusuar yang merupakan icon dari Negeri Laskar Pelangi dengan memiliki ketinggian sekitar 50-60 meter. Dari informasi yang saya dapat, dulunya pengujung boleh memasuki Menara Mercusuar ini, namun semenjak ada pungli (pungutan liar) biaya masuk Menara Mercusuar, Menara Mercusuar tidak boleh dimasuki oleh pengunjung lagi.

Di Pulau Lengkuas juga terdapat Kolam Bidadari. Kolam Bidadari merupakan kolam alami yang terbentuk dari batu-batu yang saling menyatu. Disini pengunjung biar bermandi-mandi ataupun mengabadikan keindahannya melalui bidikan lensa.

Kolam Bidadari di Pulau Lengkuas

Dengan memiliki pesona pantai yang begitu sangat indah, Pulau Lengkuas tidak hanya dikunjungi oleh wisatawan domestik saja, namun juga dikunjungi oleh wisatawan dari mancanegara, yang saya lihat pada saat itu yaitu wisatawan dari Asia

Turis dari Asia

Selain itu, Pulau Lengkuas didukung dengan Fasilitas yang memadai, diantaranya yaitu kamar mandi yang bersih dan penginapan dengan harga yang terjangkau.

Tak terasa 1 jam pun sudah berlalu saya dan rombongan berada di Pulau Lengkuas untuk berfoto-foto dan menikmati keindahan Pulau yang memiliki menara mercusuar ini. Tak lupa juga saya ikut berfoto dengan inframe menara mercusuar yang difoto oleh mbak elza. Kapan lagi kan saya bisa berfoto di Negeri Laskar Pelangi ini :D


Setelah selesai berfoto-foto di Pulau Lengkuas, kamipun kembali ke kapal untuk explore ke Pulau selanjutnya, namun sebelumnya, saya, mbak elzha, dan Irwan mencoba untuk snorkling yang lokasinya tidak jauh dari Pulau Lengkuas. Jujur ini adalah pengalaman pertama saya snorkling dalam hidup saya, padahal di Lampung atau tepatnya di Pulau Pahawang ada tempat snorkling yang lokasinya tidak jauh dari rumah saya. Namun saya tidak akan melewatkan kesempatan ini

Sesampainya di spot snorkling yang sudah ditentukan oleh guide kami, kami bertiga pun bergegas menggunakan peralatan snorkling lalu turun dari kapal. Awalnya saya agak gugup karena ini merupakan pengalaman pertama saya snorkling dan saya belum seimbang untuk mengatur nafas. Namun beberapa  menit kemudian, saya bisa mengatur nafas saya ketika snorkeling. Dan ternyata keindahan dari dasar laut di perairan Belitung Subbahanallah indah banget guys. Kelestariannya terjaga dan banyak terdapat ikan-ikan yang berwarna-warni. Pada saat itu, saya pun menikmati menit demi menit selama snorkeling di perairan Belitung kala itu. Dan tak terasa satu jam pun berlalu, kami bertiga yaitu saya, mbak elzha dan irwan naik ke atas kapal untuk explore ke Pulau selanjutnya.

Di Pulau selanjutnya, saya memilih untuk tidak turun dan duduk dikapal karena pada saat itu, saya merasakan lelah setelah explore Pulau Lengkuas dan snorkeling tadi. Pada saat itu saya mencoba berbincang-bincang kepada guide kami sambil menikmati keindahan Pulau Belitung. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari Guide kami, untuk biaya paket wisata ke Pulau Lengkuas Belitung dan 4 Pulau lainnya ternyata membutuhkan biaya sebesar Rp.500.000/kapal. Dengan biaya 500rb, kita bisa explore 5 Pulau yang ada di Belitung, diantaranya yaitu Pulau Lengkuas, Pulau Kepayang, Pulau Burung, Pulau Pasir, Pulau Belayar, serta Pulau Gerude.

Tak terasa, pada saat itu menunjukkan jam 15.00 WIB. Dan kami pun segera bergegas untuk menuju ke Pantai Tanjung Kelayang untuk kembali ke penginapan, namun sebelum ke penginapan, kami makan terlebih dahulu di warung makan khas Jogjya yaitu Waroeng Bumbu Desa yang lokasinya tidak jauh dari penginapan kami

Mari Makan

Berikut adalah Foto yang saya ambil selama di Pulau Lengkuas dan sekitarnya









Segelas Kopi di Warkop Kong Djie Yang Legendaris


Setelah menyaksikan hiburan rakyat di Festival Tanjung Kelayang (18/11/2018) sekitar pukul 22.30 WIB. Salah satu rombongan kami (Genpi) yaitu mbak Nisa mengajak kami untuk ngopi-ngopi santai di salah satu kedai kopi yang sangat terkenal dan Legend banget di Pulau Belitung yaitu Warkop Kong Djie

Mungkin buat teman-teman yang tinggal di sekitaran Belitung pasti sudah tidak asing lagi dengan Warung Kopi yang satu ini. Yaa.. Warkop Kong Djie ini terletak di Jalan Siburik, Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung.

Ngopi Geh

Warung Kopi Kong Djie ini merupakan Warkop tertua di Kabupaten Belitung yang didirikan sejak tahun 1943 oleh Ho Kong Djie, beliau adalah lelaki berdarah Tiongha yang merupakan penduduk asli Pulau Belitung.

Memiliki empat ruangan kecil yang masing-masing berukuran sekitar 3x4 meter, Warung Kopi Kong Djie ini setiap harinya selalu ramai dikunjungi oleh pelanggannya utk sekedar ngopi-ngopi atau ngumpul bersama teman dan orang tersayang.



Untuk harga di Warkop Kong Djie ini menurut saya cukup murah. Seperti contohnya Kopi O yang merupakan Kopi best seller disini. Untuk ukuran kecil harganya Rp.8.000 dan yang besar Rp.10.000

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari Bapak Ismen Holidi selaku pemilik Warkop Kong Djie, saat ini Warkop Kong Djie memiliki 84 cabang di Indonesia. 4 diantaranya dikelola oleh keluarga turun temurun dan 80 dikelola dengan sistem franchise (waralaba).


Bapak Ismen Holidi

Untuk harga franchise kopi Kong Djie ini yaitu Rp.50.000.000 untuk 3 tahun. Dan dalam sehari Warkop Kong Djie di Jalan Siburik ini dalam sehari mereka mendapatkan omset Rp.10.000.000/hari

Selain kopi, di Warkop Kong Djie juga memiliki menu makanan ringan seperti Mie Instan, Roti Panggang, Pisang Keju dan lainnya. Yang pastinya dengan harga yang terjangkau di kantong.

Oiya Warung Kopi Kong Djie ini buka setiap hari dari pukul 06.00 sampai 00.00 WIB.

Tak terasa, waktupun menunjukkan pukul 00.30 WIB dan rombongan kami pun bergegas kembali ke penginapan untuk beristirahat.

Berfoto Ala-Ala Jepang di Bukit Sakura Lampung



Lampung merupakan sebuah Provinsi yang terletak di ujung Pulau Sumatera atau bisa dikatakan Gerbangnya Pulau Sumatera untuk menuju ke Pulau Jawa. Di ujung Pulau Sumatra ini banyak sekali menyimpan Destinasi-destinasi wisata yang begitu sangat indah, dari daratan, penggunungan, serta lautan. Semuanya ada di Lampung.

Nah Jika kalian sedang berada di Kota Bandar Lampung nih guys, ada baiknya kalian mengunjungi Destinasi Wisata yang satu ini yaitu Bukit Sakura. Akhir-akhir ini Bukit Sakura ramai diperbincangkan oleh Netizen terutama Netizen di Instagram karena bentuknya seperti ala-ala di Jepang. Bisa dikatakan Lampung Rasa di Jepang, karena disetiap sudut di Bukit Sakura terdapat bunga yang berbentuk Bunga Sakura.

Alamat Bukit Sakura

Bukit Sakura terletak di Jalan Batukalam, Kecamatan Langkapura, Kota Bandar Lampung. Untuk Rute menuju Bukit Sakura, Jika kalian dari Pasar Bambu Kuning itu melewati Jalan Imam Bonjol arah menuju Kemiling, setelah melewati Universitas Saburai lalu ada pertigaan dan tidak jauh dari pertigaan Universitas Saburai terdapat Rumah Sakit Ibu dan Anak SINTA.

Dan diseberang Rumah Sakit Ibu dan Anak SINTA adalah jalan Batukalam yang disebelahnya Bakso Solo, masuk kedalam kira-kira sekitar 1 km dari Jalan Imam Bonjol, Nah disitu tempatnya Bukit Sakura Lampung atau jika kalian bingung, kalian juga bisa searching di Google Map dengan kata kunci Bukit Sakura.

Harga Tiket Masuk Bukit Sakura Lampung

Ketika saya memasuki Bukit Sakura pada 21 Oktober 2018, untuk Harga Tiket Masuk Bukit Lampung itu dikenakan biaya Rp.10.000/orang. Dan ditambah dengan uang parkir motor Rp.2.000 dan untuk mobil Rp.5.000.

Menurut saya, Harga Tiket Masuk Bukit Sakura Lampung diatas termasuk worth it karena sesuai dengan fasilitas yang didapat untuk berlibur bersama orang tersayang ke Bukit Sakura

Fasilitas di Bukit Sakura Lampung

Dengan mengeluarkan biaya tiket masuk ke Bukit Sakura sekitar Rp.10.000/orang. Disana kalian bisa menikmati beberapa Fasilitas yang sudah disediakan oleh petugas Bukit Sakura yaitu Gazebo, Ayunan Bambu, Kantin, Mushola, Toilet, dan pastinya Spot-spot foto yang ala-ala di Jepang seperti yang sudah saya sampaikan diatas.

Pastikan ketika kalian ke Bukit Sakura sudah menyiapkan kamera, entah itu kamera hp, kamera dslr, kamera mirroles ataupun sejenisnya untuk mengabadikan momen terindah kalian di Bukit Sakura Lampung.

Oiya, di Bukit Sakura Lampung, kalian juga bisa menikmati indahnya Kota Bandar Lampung dari ketinggian. Kalau bagusnya sih menurut saya, itu pada malam hari, sekitar setelah selesai sholat Magrib. Karena pada malam hari, kalian bisa menikmati kelap kelip Kota Bandar Lampung. Sambil duduk di Gazebo yang sudah disediakan bersama orang yang kita sayangi. Pastinya indah banget ya guys.

**

Berikut adalah foto-foto yang saya ambil pada 21 Oktober 2018 yang lalu di Bukit Sakura dengan Inframe adik kandung saya







Kuliner Lampung : Menikmati Sepiring Sate Madura Bu Bibah


Malam itu sekitar pukul 23.00 WIB tiba-tiba perut saya terasa lapar. Saya pun bergegas keluar rumah dengan mengendarai motor matic kesayangan saya untuk mencari kuliner malam di Bandar Lampung City, Lampung. Seketika saya jadi kepikiran dengan sate ayam yang terakhir saya coba sebulan lalu. Lokasinya tidak jauh dari rumah saya, ya sekitar 3-5 menit jaraknya dari rumah saya.

Sate itu adalah Sate Madura dari Bu Bibah yang terletak di Jalan Imam Bonjol (seberang SDN 1 Langkapura), Langkapura, Bandar Lampung. Sate Pinggir jalan yang rasanya tak kalah dengan sate ternama yang lainnya. Entah kenapa saya lebih menyukai makanan di pinggir jalan daripada di cafe ataupun restoran. Bukan soal uang, tapi soal rasa. Mungkin Sate Bu Bibah ini kuliner lampung 2018 yang tak terkenal dengan kuliner yang lainnya, sebut saja seperti sate cak umar, Mie Khodon, bakso sony, els coffe ataupun yang lainnya.

Bu Bibah

Sesampainya saya di Sate Madura  Bu Bibah, saya pun memesan pesanan saya seperti biasa yaitu sate ayam dengan lontong. Untuk harganya cukup terjangkau yaitu hanya Rp.20.000/porsi (sudah termasuk lontong/nasi), jika tidak menggunakan lontong/nasi harganya Rp.15.000/porsi dengan 10 tusuk sate. Selain Sate Ayam juga ada Sate Kambing yang harganya Rp.23.000/porsi (sudah termasuk lontong/nasi) dan jika hanya sate kambingnya saja artinya tidak pakai lontong ataupun nasi harganya Rp.18.000/porsi dengan 10 tusuk sate kambing.

Taraaaa... Sate Madura Bu Bibah

Untuk rasanya, Sate bu Bibah ini sama dengan Sate Madura yang lainnya, namun yang saya suka dari Sate Ayam Bu Bibah ini tekstur dari daging sate ayamnya itu lembut dan bumbu kacangnya yang medok. Selain itu Bu Bibah ini orangnya ramah kepada setiap pembelinya. Kalau diajak ngobrol ibunya welcome.

Bagi saya, seenak apapun masakan dari seorang pedagang kalau orangnya tidak ramah dengan pembelinya otomatis saya cukup sekali saja belanja di tempat makan itu. Sedikit flashback ke belakang. Saya dulu pernah membeli Mie Goreng yang lokasinya di Kedaton, Bandar Lampung. Pada saat itu makanan saya lama banget datangnya hampir sejaman, padahal disebelah saya yang datangnya baru datang dan sudah dikasih duluan. Ketika saya bertanya ke pedagangnya, kapan pesanan saya tiba, dia balasnya dengan jutek. Walaupun masakannya saya akui enak, tapi saya cukup sekali makan disana karena keramahannya kurang terhadap pembelinya.

*Oke kembali ke Sate Bu Bibah*

Ketika Bu Bibah sedang membuat pesanan saya, saya pun mencoba ngobrol-ngobrol sedikit dengan Bu Bibah. Ternyata Bu Bibah ini perantauan dari Madura yang berusia 62 tahun dan Bu Bibah sudah berjualan sate di Bandar Lampung selama 18 tahun. Bu Bibah berjualan Sate Madura ini ditemani juga oleh Suaminya yang saya lupa menanyakan nama suaminya. Jujur, saya merasa salut dengan Bu Bibah, karena di Usia tuanya, Bu Bibah tetap bersemangat untuk berjualan sate madura dari jam 2 siang sampai jam 1 malam demi rezeki yang halal. Belum lagi untuk mempersiapkan kebutuhan sebelum dagang seperti belanja dipasar, masak bumbu kacang dan nusuk daging sate.

Bu Bibah pun bercerita kepada saya bahwa dagangannya akhir-akhir ini mulai sepi. Namun saya hanya bisa bilang ke Bu Bibah

“Sabar bu.. Rezeki ga bakalan kemana-mana bu” ujar saya

Beberapa menit kemudian, tak terasa sate sepiring di depan sate saya sudah habis. Yang tersisa hanyalah lidi tusukan sate. Saya akui sate Bu Bibah ini beneran enak dan buat kalian yang baca tulisan ini dan lagi di Bandar Lampung. WAJIB banget untuk nyobain Sate Madura dari Bu Bibah

**

Mungkin sekian dulu tulisan saya kali ini tentang “Kuliner Lampung : Menikmati Sepiring Sate Madura Bu Bibah” dan sampai jumpa di tulisan saya selanjutnyaa... *peluk online*

****

Tag : Kuliner Lampung Yang Terkenal
         Kuliner Lampung 2018
         Kuliner Lampung Murah
         Kuliner Lampung Instagram